spot_img
4.6 C
New York
Senin, Juli 4, 2022
BerandaDaerahProvinsi GorontaloLimbah B3 Fayankes di Gorontalo Membahayakan, Tempat Penyimpanan pun Belum Layak

Limbah B3 Fayankes di Gorontalo Membahayakan, Tempat Penyimpanan pun Belum Layak

Rekamfakta.com , Gorontalo – Mencuatnya isu mengenai limbah medis yang ditemukan berserakan di TPA, pengelolaan limbah medis di sejumlah Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fayankes) di Provinsi Gorontalo pun ikut mencuat hingga hingga mengundang sorotan dari beberapa pihak. Pasalnya, limbah beracun berbahaya yang dihasilkan oleh Fayankes tersebut banyak ditemukan di tempat terbuka dan masih jauh dari rasa nyaman oleh kehidupan manusia.

Salah satunya, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Gorontalo, Adnan Entengo meminta agar pihak-pihak terkait lebih memperhatikan pengelolaan limbah medis yang sifatnya sangat berbahaya.

Menurutnya, Dari sisi dampak lingkungan juga sangat jelas punya dampak negatif, karena sampah yang dihasilkan Rumah Sakit jika tidak tertata dengan baik, akan berdampak buruk, termasuk Puskesmas dan Klinik.

Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Partai Keadilan Sejahtera (DPW PKS) Provinsi Gorontalo itu menjelaskan, pada saat melakukan kunjungan di beberapa instansi Fayankes, menemukan tempat penyimpanan sementara (TPS) bagi limbah medis tidak memenuhi standar operasional.

“ Dari Masing-masing Rumah Sakit kita lihat ini, tempatnya Kecil-kecil, apalagi Puskesmas ada yang dikunjungi itu tidak layak, sangat potensi keburukan dan membahayakan, ” Kata Adnan, Jum’at malam (13/05/2022) kepada Awak Wartawan

Tidak hanya itu, bahkan Rumah Sakit sekelas Aloe Saboe pun dijumpai ada limbah medis yang berserakan ditempat terbuka, pada saat pihaknya melakukan kunjungan ke Rumah Sakit tersebut.

“Kemarin ketika kita datang itu, ada sampah (limbah B3) yang diluar Tempat Pembuangan Sementara, Walaupun itu sudah dipilah itu barang-barang plastik dan botol infus. Kesimpulan sementara kita, ini menjadi perhatian bersama.” Jelas Ketua PKS Gorontalo

Disentil soal tidak tercemarnya kualitas udara di sekitar Rumah Sakit Aloei Saboe berdasarkan laporan periodik, Adnan Entengo mengatakan bahwa dirinya belum mendapatkan informasi yang lengkap perihal tersebut. “ Saya belum mendapatkan informasi standarnya seperti apa (Laporan Periodik). Kemarin kan kita hanya melihat dari sisi kesehatan, kalau begini bahaya ini kumpulan sampah,” Ungkap Adnan

Namun demikian, pihaknya akan mengagendakan rapat pada pekan depan.

Sementara itu, Wakil Direktur Pelayanan RSUD Aloe Saboe, dr. Bobby Harun Okko saat ditemui diruang kerjanya oleh media ini, menjelaskan bahwa di RSAS sendiri belum mempunyai alat penampung limbah sementara berupa yang mampu menampung limbah medis hingga 90 hari, namum dengan anggaran yang dikelola setiap tahunnya ( 500 juta) Pihak Rumah Sakit tetap berupaya yang terbaik.

“ Kita berusaha ada tempat penyimpanan semntara, namanya upaya, soal menjamin tidak boleh lebih dari 90 hari ya, tapi itu upaya maksimal kita, agar supaya sampah itu tidak mencemari lingkungan, sehingganya kita tempatkan pada tempat sesuai yang ada. Tetap kita taru disitu (Red TPS Limbah Medis), kita mau taru dimana lagi, tidak ada jalan lain dan tetap harus disitu, ” Jelas Bobby

Disinggung mengenai rekomendasi dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) berupa regulasi terkait dengan pengelolaan limbah medis yang disimpan pada ruangan sementara, dr. Bobi mengatakan bahawa itu belum ada, namun niat untuk memperbaiki semua prosedur pegelolaan dari segi administrasi sampai pada pengelolaan pun tetap diupayakan semaksimal mungkin.

“ Memang belum ada, cuma memang kita punya keadaan dan anggaran ya seperti itu adanya, jadi, semampunya kita lakukan. Kita sudah ada niat, kita sediakan anggaran, kita sediakan ruangan sendiri, agar limbah ini tidak merusak lingkungan. ” Tutup Wadir Pelayanan RSAS.

RF/Neffly Supu

Baca Juga

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img
spot_img
spot_img

Pasang Iklan Disini

OTHER STORIES

KOMENTAR TERBARU

error: Content is protected !!