Berita  

‎Gelombang Penolakan Menguat, Warga Tapa Desak Hoya-Hoya Angkat Kaki dari IPPOT

Foto Istimewa
banner 120x600

Rekam Fakta, Gorontalo – Polemik keberadaan “Hoya-Hoya” pasar malam di kawasan IPPOT, Kecamatan Tapa, terus memantik kemarahan publik. Infrastruktur yang sejatinya dibangun sebagai pusat olahraga dan ruang publik masyarakat, kini justru diduga dimanfaatkan untuk kepentingan komersial tanpa mempertimbangkan dampak sosial, lingkungan, maupun fungsi utamanya.

‎IPPOT selama ini dikenal sebagai ruang aktivitas olahraga, pusat interaksi warga, serta simbol kebersamaan masyarakat Tapa. Namun kondisi tersebut dinilai mulai berubah. Lapangan yang seharusnya menjadi ruang sehat, kini dipandang beralih fungsi menjadi arena hiburan malam yang bising, kumuh, dan berpotensi menimbulkan konflik sosial.

‎Penolakan terhadap aktivitas tersebut sebelumnya telah disuarakan oleh salah satu tokoh masyarakat Tapa, Ridwan Kasim. Ia menegaskan bahwa masyarakat tidak pernah memberikan persetujuan atas keberadaan Hoya-Hoya di kawasan IPPOT.

‎Namun, situasi yang berkembang justru memunculkan kekhawatiran baru. Berdasarkan sejumlah pesan WhatsApp yang beredar, terindikasi adanya tekanan terhadap pihak-pihak yang menyuarakan penolakan. Kondisi ini membuat sebagian warga memilih untuk diam karena merasa khawatir dan enggan menyampaikan keresahan yang mereka alami.

‎Ridwan disebut menjadi salah satu contoh ketika suara penolakan direspons dengan adanya intervensi. Hal ini dinilai sebagai sinyal adanya kekuatan tertentu yang diduga berupaya meredam aspirasi masyarakat, bahkan dari pihak yang seharusnya berada di garda terdepan dalam melindungi kepentingan publik.

‎Kecaman keras juga disampaikan oleh Syawal Hamjati. Ia menilai aktivitas Hoya-Hoya tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga mengancam kerukunan sosial serta nilai budaya masyarakat di Kecamatan Tapa dan wilayah Tapa-Bulango secara luas.

‎“Ini bukan sekadar soal pasar malam. Ini soal perusakan ruang publik, ini soal ancaman terhadap ketertiban dan nilai sosial masyarakat. Pemilik Hoya-Hoya harus segera angkat kaki dari Kecamatan Tapa!” tegas Syawal.

‎Ia juga menegaskan bahwa masyarakat tidak akan tinggal diam apabila aktivitas tersebut terus berlangsung.

‎“Kami tidak akan diam. Jika tidak segera dihentikan, masyarakat Kecamatan Tapa akan melakukan aksi. Bahkan kami siap mendorong penyitaan sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Ini bukan ancaman kosong, ini sikap tegas terhadap penyelewengan yang tidak bisa lagi ditoleransi,” lanjutnya.

‎Sejumlah dampak yang ditimbulkan dari aktivitas Hoya-Hoya pun dinilai cukup serius, antara lain kerusakan fasilitas olahraga akibat penggunaan yang tidak sesuai fungsi, gangguan ketertiban umum karena kebisingan hingga larut malam, potensi konflik sosial akibat perbedaan sikap warga, serta degradasi nilai budaya dan fungsi ruang publik sebagai tempat kebersamaan.

‎Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan hanya IPPOT yang terancam rusak, tetapi juga tatanan sosial masyarakat Tapa yang selama ini dikenal rukun dan solid.

‎Masyarakat kini menunggu ketegasan pemerintah dan pihak berwenang. Sikap diam dinilai sama dengan membiarkan, bahkan merestui kerusakan yang terjadi.

‎Desakan pun kembali ditegaskan, agar aktivitas Hoya-Hoya segera dihentikan dan angkat kaki dari Kecamatan Tapa. Jika tidak, gelombang perlawanan masyarakat dipastikan akan semakin besar dan sulit dibendung.

‎***

Penulis: RedaksiEditor: Aman Apik