‎

Fahrurozy Darmawan: Perpustakaan, Jadikan Buku Yang Ada Sebagai Jawaban Atas Permasalahan Yang Ada

Per
Fahrurozy, Arya Pandu Prakasa, Mustika Wati (Foto: istimewa)
banner 120x600

Rekamfakta.com, Jakarta – Fahrurozy Darmawan mengungkapkan bahwa tantangan untuk menghidupkan perpustakaan adalah menjadikan buku yang ada sebagai jawaban atas permasalahan yang ada, sehingga bahan pustaka yang tersedia di perpustakaan menjadi sebuah kebutuhan.

“Buku atau bahan pustaka harus menjadi kebutuhan seperti makan atau udara untuk bernapas, karena di situ ada jawaban atas persoalan yang harus diselesaikan,” papar Akademisi dari Universitas Pancasila ini.

Fahrurozy menilai Literasi informasi akan muncul karena ada kebutuhan dan kebutuhan itu bertemu dengan sumbernya.

“Ketika banyak pertanyaan muncul dalam hati, dan mencari-cari jawabannya. Jawabannya itu diharapkan ada di perpustakaan,” ucapnya.

Tentu saja, tambah Fahrurozy, perlu kolaborasi dengan banyak pihak agar bahan-bahan pustaka pertanian yang banyak tersedia bisa sampai kepada para petani di daerah.

Di sinilah peran para peneliti dan penyuluh untuk dapat mentransfer teknologi-teknologi dan informasi dari jurnal-jurnal di perpustakaan kepada para petani.

Para peneliti bisa mencoba dan memberikan rekomendasi suatu teknologi digunakan di sebuah daerah.

Sementara para penyuluh juga bisa memperkaya perpustakaan dengan laporan-laporan yang bisa diakses oleh masyarakat.

Senada dengan Fahrurozy, Arya Pandu Prakasa, seorang traveller librarian, menyebutkan pentingnya membangun komunitas dan mendekatkan bahan pustaka dengan potensi daerah.

Menurutnya jiwa perpustakaan itu ada pada penggunanya. Jadi pengelola perpustakaan atau pustakawan harus menghidupkan pepustakaan dengan membangun komunitas.

“Sebenarnya pustakawan tidak harus diam di perpustakaan 24 jam, tapi harus keluar keliling mengaplikasikan ilmu mereka,” ucap pemuda yang telah mengunjungi 44 negara ini.

Misalnya ketika ada hobby tanaman hias, pustakawan bisa membuat komunitas, bisa saling berdiskusi. Pepustakaan tidak hanya bisa menyediakan materi atau bahan pustaka, tapi juga bisa memfasilitasi dengan kegiatan, sehingga masyarakat dengan hobby tersebut bisa datang ke perpustakaan.

Arya juga memandang pentingnya bahan pustaka yang tersedia, menyesuaikan dengan potensi daerah sehingga sejalan dengan kebutuhan masyarakat.

Perpustakaan harus bisa membaca kebutuhan masyarakat di daerah tersebut, misalnya berdasarkan mata pencaharian masyarakat.

Sedangkan Mustika Wati melihat pentingnya pustakawan dalam memberikan sentuhan manusiawi dalam memberikan layanan informasi kepada masyarakat.

Masyarakat tidak boleh hanya dilihat sebagai pengguna bahan pustaka, namun perlu diketahui kecenderungan minatnya. RF

‎