Rekamfakta.com, Kota Gorontalo – Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun, Sudah tiga hari berlalu atas kepergian almarhum, tapi rasa duka nestapa serta gundah gulana yang menyayat hati masih saja menyelimuti benak para kerabat, handai tolan, sahabat karib dan tetangga serta rekan kerja dari Almarhum Ramli Yamin Ibrahim, S.Sos,. M.Pd.
Betapa tidak, sosok almarhum yang dikenal sebagai motivator di lingkungan keluarga dan kerja ini pergi menghadap ilahi sangat begitu cepat tanpa memberikan tanda-tanda atau firasat bagi keluarga dekat dan tetangga, sehingga banyak orang yang masih tidak percaya akan kepergiannya.
BERITA POPULER
Hal ini juga terbukti pada hari pemakaman almarhum yang dihadiri ratusan pelayat, baik dari rekan kerja maupun sahabat, keluarga serta tetangga, bahkan orang Nomor Satu di Kampus IAIN Sultan Amay turut hadir pula menyaksikan pelepasan jenazah untuk di kuburkan, dan tentunya tetap mengikuti anjuran pemerintah dengan memakai masker dan menjaga jarak.
Tak hanya hadir saja, Rektor IAIN Sultan Amay yang didampingi Wakil Dekan Sahmin Madina juga turut memberikan kesan dan pesan mewakili atas nama keluarga yang berduka, dengan suara yang serak dan beberapa kali sempat meneteskan air mata.
“Pak Dekan tolong di data anak Almarhum, sepanjang anak ini masih mau kuliah dan melanjutkan studinya sampai selesai, akan di tanggung oleh Lembaga,” ujar Rektor Dr. Lahaji Haedar, M.Ag dengan suara terbata-bata sambil menghapus air matanya.
Sosok Almarhum Ramli Yamin Ibrahim yang dikenal religius ini wafat pada umur 45 tahun dan meninggalkan seorang istri bernama Verawaty Umar dan 3 orang anak yaitu yang bernama Moh. Fitrah R Ibrahim (Oncrom) dan Putri Amali R Ibrahim (Putri) serta Fadila Nur Aulia R Ibrahim (Ceci).
Dr. Lahaji, M.Ag menambahkan dirinya sempat bergetar karena sedih mendengar kabar almarhum wafat, ia tidak menyangka almarhum terlalu cepat di panggil Tuhan, almarhum Ramli adalah orang baik, dan orang baik biasanya begitu cepat di panggil Tuhan.
“Almarhum juga sangat luar biasa karena dia bina anak-anaknya semua dengan cara islami dengan cara disekolahkan di pesantren, anaknya yang sulung kuliah di IAIN, jadi betul-betul dia bimbing anak-anaknya dalam hal pendidikan agama, luar biasa tanggung jawabnya sebagai orang tua,” kata Rektor STAIN ini melalui sambungan telpon seusai pemakaman.
Menurut Rektor, dirinya baru mengetahui anak sulung dari Almarhum sedang kuliah di IAIN pada saat pemakaman, padahal Almarhum sangat dekat sang Rektor, mungkin Almarhum tidak mau merepotkan Rektor karena unsur kedekatan.
“Saya sudah ketemu istrinya, saya bilang jangan sia-siakan anak kamu, di sekolahkan terus, mau liat anak berhasil itu lewat pendidikan, karena anaknya yang tua kuliah di IAIN, Insya Allah saya akan biayai dalam arti saya usahakan juga bisa dapat beasiswa supaya bisa tetap menyelesaikan studinya di kampus IAIN. Yang jelas anaknya yang tua laki-laki ini karena sudah kuliah di IAIN, Insya Allah saya bantu dia, karena dia sudah anak yatim, dan satu-satunya tulang punggung pengganti Bapaknya, karena ibunya cuma ibu rumah tangga,” ujar Rektor IAIN ini.
“Tadinya Almarhum ini di tarbiyah, karena bakat dan kepintarannya, saya masukkan dia di humas, di pemberitaan, jadi saya ikutkan juga dia pelatihan-pelatihan jurnalistik, dia yang memberitakan semua agenda di kampus, semua berita dia yang godok, semua kegiatan saya sebagai rektor dia yang bikin, dia anggota di Humas, kalau tidak salah dia terangkat honor di Humas tahun 2007, sebelumnya dia security di kampus, lalu dia masuk karyawan sebagai honor sambil kuliah ambil S1 sampai dengan S2,” tambahnya lagi.
“Saya merasa sangat kehilangan dengan kepergian almarhum, saya berharap keluarganya bisa bersabar, saya juga tidak bisa banyak ngomong karena sedih, semoga di lapangkan kuburnya, Semoga semua Amal Ibadahnya diterima oleh Allah SWT, Aamiin Yaa Rabbal Alamin,” tutup Rektor IAIN Dr. Lahaji, M.Ag.
Pada kesempatan berbeda, ketika awak media rekamfakta.com mewawancarai Salah satu kerabat dekat Almarhum yang bernama Rifai Ibrahim alias Ipay menuturkan bahwa seorang Ramli pada masa hidupnya sangat ramah kepada siapa saja, paling menghormati kepada orang yang lebih tua dan penyayang binatang seperti kucing serta tutur bahasanya sangat santun dengan diringi candaan, Almarhum sangat senang bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, tak heran banyak teman kampus yang meminta bantuannya.
“Bahkan di lingkungan sekitar tempat tinggalnya yang semuanya masih keluarga, Almarhum sering memberi masukan tentang kehidupan, baik itu masalah sosial maupun masalah agama, sehingga Almarhum di juluki Sang Motivator, dan juga Almarhum mahir sebagian cabang olahraga, terutama Catur, saya menilai Almarhum lebih hebat dari Grand Master Kasparov dan Grand Master Utut Adianto, Almarhum juga sangat lihai bermain Play Station permainan sepak bola dengan klub andalan “The Blues” julukan dari Tim Chelsea,” pungkas Ipay dengan mata berkaca-kaca.
“Selamat jalan Paman Ramces, semua kenangan bersamamu tidak akan mungkin kami lupakan, semua nasihat dan petuahmu akan terus kami ingat, jalanmu sekarang akan menjadi jalan kami juga kelak, semoga istri dan anak-anakmu bisa menerima dan sabar dengan ujian ini, Semoga dilapangkan kuburmu, diterima semua amal ibadahmu dan di ampuni semua dosa-dosamu, Aamiin Yaa Rabbal Alamin,” tutup Ipay dengan deras meneteskan air mata yang tak mampu ia bendung. (0N4L/RF)




























