Berita  

Saksi Kunci Ungkap Detik-Detik Evakuasi Sutrimo: “Saya Lihat Bang Trimo Masih Bergerak”

Gambar Ilustrasi
banner 120x600

Rekam Fakta, Gorontalo — Kesaksian seorang saksi kunci yang berada langsung di lokasi saat Sutrimo ditemukan dalam kondisi sakit mengungkap rangkaian pertolongan yang dilakukan sebelum korban akhirnya dibawa untuk mendapatkan penanganan medis.

Saksi yang merupakan pekerja di lingkungan kediaman FA tersebut meminta identitasnya dirahasiakan. Ia menjadi salah satu orang yang ikut membantu mengevakuasi Sutrimo dan kemudian bersama F mencari ambulans.

Dalam keterangannya, saksi menjelaskan bahwa A merupakan orang yang lebih dulu meminta bantuannya ketika Sutrimo ditemukan sakit, sedangkan F merupakan pihak yang kemudian menghubunginya untuk membantu membawa kendaraan dan ikut mencari ambulans.

Cerita itu bermula ketika saksi sedang tidur.

“Saya sedang tidur. Saya tidak tahu jam berapa. Kemudian saya dibangunkan A. Dia bilang minta bantu Bang Trimo yang sedang sakit,” tutur saksi.

Tidak lama setelah itu, F juga menghubunginya.

“Pak F juga bangunin saya. Dia minta saya cepat-cepat ke sana, ke Kramat Pela. Disuruh bawa mobil,” katanya.

Saksi mengaku saat itu dirinya masih mengantuk sehingga tidak langsung berangkat.

“Saya jawab iya saja karena masih ngantuk. Terus dia telepon lagi, mungkin karena saya lama. Dia tanya saya sudah di mana,” ujarnya.

Setelah melihat teleponnya sudah beberapa kali masuk, saksi akhirnya bergegas menuju lokasi.

“Saya Lihat Bang Trimo Masih Bergerak”

Sesampainya di lokasi, saksi melihat A berada bersama Sutrimo di dalam rumah.

“Saya lihat Pak F sama Pak A. Pak A di dalam sama Bang Trimo,” katanya.

Di titik inilah saksi menyebut kondisi Sutrimo masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan.

“Saya lihat Bang Trimo masih gerak-gerak. Masih hidup,” ungkapnya.

Bahkan, menurut saksi, Sutrimo masih memberikan respons ketika diminta mengangkat tangan.

“Pak A minta Bang Trimo angkat tangan. Masih refleks, tangannya masih bergerak,” katanya.

Saksi kemudian ikut membantu mengeluarkan tubuh Sutrimo dari dalam rumah.

“Pak A pegang ketiaknya. Saya pegang bagian lainnya. Kita angkat,” tutur saksi.

Namun proses evakuasi tidak berjalan mudah. Tubuh Sutrimo disebut cukup berat.

“Pokoknya dua orang saja tidak kuat. Perkiraan saya seratus kilo lebih. Sampai kita seret karena tidak kuat mengangkat,” katanya.

Meski dalam kondisi lemah, saksi menyebut Sutrimo masih menunjukkan respons.

“Masih hidup, Pak. Waktu kita gotong itu dia masih batuk,” ujarnya.

Saat berada di sekitar tangga, Sutrimo kembali batuk dan mengeluarkan lendir.

“Dia batuk, terus keluar seperti dahak. Seperti mau mengeluarkan lendir,” kata saksi.

Setelah tubuh Sutrimo diletakkan di bawah tangga atau teras, saksi melihat kondisi lain.

“Di hidungnya keluar seperti gelembung, lendirnya kental. Seperti dahak. Kemudian dari mulut juga keluar,” tuturnya.

Mobil Brio Tak Cukup

Setelah berhasil membawa Sutrimo keluar, orang-orang di lokasi mulai mencari cara agar korban segera dibawa ke fasilitas kesehatan.

Saksi kemudian berlari meminta bantuan kepada pekerja lain di kediaman.

“Saya bilang ada orang sakit, minta bantuan. Kemudian ada dua orang yang ikut membantu,” katanya.

Mereka kembali ke lokasi dan mencoba menggunakan mobil Honda Brio.

Namun, kendaraan tersebut ternyata tidak memungkinkan digunakan.

“Pas mau dimasukkan ke mobil, katanya tidak cukup. Badannya besar sekali,” ujar saksi.

Kondisi itu membuat mereka mencari alternatif lain.

“Akhirnya saya sama Pak F pergi cari ambulans,” katanya.

Pencarian dilakukan ke sejumlah fasilitas kesehatan.

“Kami ke klinik 24 jam di Radio Dalam. Tapi ambulansnya tidak ada,” tutur saksi.

Mereka kemudian menuju Rumah Sakit Gandaria.

“Di sana ada ambulans, tapi tidak ada sopirnya,” lanjutnya.

Saksi memastikan, pencarian ambulans dilakukan ketika Sutrimo belum dinyatakan meninggal.

“Saat saya pergi cari ambulans, Bang Trimo masih hidup. Masih batuk,” tegasnya.

Setelah Itu Saksi Tidak Lagi Mengikuti

Setelah pencarian ambulans, saksi kembali ke kediaman. Ia mengaku tidak lagi mengetahui secara langsung apa yang terjadi setelah itu.

“Saya sudah tidak ikut lagi. Saya kembali ke kediaman,” katanya.

Ia kemudian mengetahui Sutrimo telah meninggal setelah mendapat informasi bahwa korban sudah dipulangkan dan kemudian dimakamkan.

“Saya tahunya Bang Trimo sudah dipulangin. Katanya meninggal di rumah sakit,” ujarnya.

Karena tidak berada di lokasi pada proses berikutnya, saksi mengaku tidak mengetahui secara langsung kapan tepatnya Sutrimo meninggal.

“Saya tidak tahu jamnya. Setelah saya cari ambulans, saya sudah tidak ikut,” katanya.

Pernah Bercerita Soal Diabetes

Jauh sebelum kejadian, saksi mengaku beberapa kali berbincang dengan Sutrimo di sekitar taman.

“Dulu kami pernah ngobrol-ngobrol sambil ngopi,” katanya.

Dalam percakapan itu, Sutrimo pernah menceritakan kondisi kesehatannya.

“Dia pernah bilang pernah operasi. Saya lihat dia pakai sandal. Katanya jempol kakinya diamputasi karena diabetes,” tutur saksi.

Saksi juga menyebut pernah melihat luka di bagian punggung Sutrimo.

Namun, ia tidak mengetahui secara rinci riwayat pengobatan korban.

“Saya Tidak Pernah Lihat Ada Konflik”

Selama mengenal Sutrimo, saksi mengaku tidak pernah melihat adanya konflik antara korban dengan para pekerja di lingkungan kediaman.

“Hubungannya baik. Saya tidak pernah lihat ada konflik,” katanya.

Kesaksian tersebut memberikan gambaran mengenai fase awal kejadian, terutama kondisi Sutrimo ketika pertama kali dievakuasi dan upaya orang-orang di lokasi mencari pertolongan medis.

Namun, saksi menegaskan bahwa dirinya hanya mengetahui apa yang dilihat dan dialaminya secara langsung.

“Saya hanya sampai ikut menggotong dan mencari ambulans. Setelah itu saya tidak tahu,” ujarnya.

Dengan demikian, keterangan mengenai Sutrimo masih hidup saat proses evakuasi merupakan kesaksian langsung saksi, sementara waktu pasti kematian dan penyebab medisnya tetap membutuhkan pembuktian melalui pemeriksaan medis serta keterangan pihak yang mengikuti proses selanjutnya.