Ketika Penertiban PETI Menyisakan Lebih Banyak Pertanyaan daripada Jawaban
Oleh: Rahwandi Botutihe
Koordinator Aliansi Pemuda dan Masyarakat Peduli Keadilan Gorontalo (APMPK-G)
“JIN” dalam tulisan ini bukan makhluk gaib. Ia adalah metafora tentang sesuatu yang tidak selalu terlihat, tetapi pengaruhnya terasa. Sesuatu yang hadir di belakang layar, namun kerap menentukan arah permainan.
Masyarakat tidak bodoh
Mereka mungkin tidak mengetahui seluruh isi berkas penyelidikan. Mereka mungkin tidak mengikuti setiap pasal dalam undang-undang. Tetapi masyarakat memiliki satu kelebihan yang sering diremehkan, mereka mampu membaca rangkaian peristiwa.
Dan terkadang, rangkaian peristiwa lebih jujur daripada seribu klarifikasi.
Pada 27 Juli 2026, publik menyaksikan Kapolres Bone Bolango menerima massa aksi penambang di halaman Mapolres. Sebuah peristiwa yang sepintas tampak biasa.
Namun, di balik pemandangan itu, ada sesuatu yang mengundang tanda tanya.
Dua orang yang sebelumnya telah dilaporkan ke Ditreskrimsus dan Bidang Propam Polda Gorontalo justru tampak berdiri tepat di belakang Kapolres.
Kebetulan?
Mungkin.
Tetapi ketika sebuah kebetulan muncul di tengah laporan yang sedang berproses, publik tentu memiliki hak untuk bertanya.
Mengapa mereka berada di sana?
Dalam kapasitas apa?
Siapa yang memberi ruang?
Dan yang paling penting, apa pesan yang ingin terbaca oleh masyarakat?
Saya tidak sedang menuduh.
Saya justru meminta agar semua dugaan dijawab melalui penyelidikan yang terbuka.
Karena dalam negara hukum, jawaban tidak boleh lahir dari asumsi, melainkan dari keberanian membuka fakta.
Yang membuat masyarakat resah bukan semata-mata keberadaan dua orang itu.
Yang membuat masyarakat gelisah adalah munculnya kesan bahwa ada kekuatan yang tidak terlihat, tetapi mampu hadir di ruang-ruang yang seharusnya steril dari kepentingan.
Di situlah “JIN” itu hidup.
Bukan makhluk gaib.
Melainkan bayangan tentang dugaan pengaruh, kedekatan, dan kepentingan yang belum pernah dijelaskan kepada publik.
Apalagi ketika berkembang berbagai informasi mengenai dugaan adanya pihak yang mencatut nama aparat, membawa-bawa nama pejabat kepolisian, hingga dugaan adanya kepentingan bisnis di balik penutupan beberapa titik PETI.
Benarkah semua itu?
Saya tidak tahu.
Karena itulah saya meminta Kapolda Gorontalo membuktikannya.
Jika semua dugaan itu tidak benar, sampaikan kepada publik secara terbuka.
Tetapi apabila benar ada oknum yang menjadikan nama institusi sebagai tameng untuk kepentingan pribadi, maka jangan biarkan mereka terus bersembunyi di balik kewibawaan Polri.
Polri adalah institusi yang terlalu besar untuk dipertaruhkan demi melindungi segelintir orang.
Justru keberanian membersihkan oknum akan mengangkat kembali kepercayaan masyarakat.
Lubang-lubang tambang mungkin bisa ditutup dalam sehari.
Namun lubang ketidakpercayaan publik tidak akan pernah tertutup selama pertanyaan-pertanyaan itu dibiarkan menggantung.
Karena yang sedang ditunggu masyarakat hari ini bukan sekadar operasi penertiban.
Yang ditunggu adalah keberanian mengungkap siapa yang sebenarnya bermain di balik layar.
Mungkin saja saya keliru.
Mungkin semua ini hanyalah kebetulan.
Tetapi selama pertanyaan-pertanyaan itu belum dijawab secara terang, masyarakat akan terus bertanya:
Benarkah yang berdiri di belakang Kapolres hanyalah dua orangโฆ atau ada “JIN” yang selama ini ikut mengendalikan permainan?
























