Rekam Fakta, Bone Bolango – Polemik aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Kabupaten Bone Bolango kembali memanas. Setelah sebelumnya lantang menyoroti jatuhnya korban jiwa di lokasi tambang ilegal wilayah Tulabolo Timur, kini Rahwandi Botutihe mengaku mendapat tekanan agar menghentikan sorotannya terhadap persoalan PETI.
Koordinator Aliansi Pemuda dan Masyarakat Peduli Keadilan itu mengungkapkan, dirinya sempat dihubungi oleh salah satu pejabat tinggi di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bone Bolango.
Dalam komunikasi tersebut, pejabat itu disebut menyampaikan agar Rahwandi tidak lagi terlalu jauh mengkritisi persoalan PETI yang belakangan menjadi perhatian publik.
Rahwandi bahkan mengklaim bahwa dalam percakapan itu turut disampaikan jika Bupati Bone Bolango disebut mulai merasa pusing dengan gerakan dan sorotan yang terus ia lakukan terhadap aktivitas PETI.
“Ada pejabat tinggi daerah yang menghubungi saya. Intinya meminta agar persoalan ini jangan terus dibesar-besarkan lagi. Bahkan disampaikan juga kalau bupati sudah pusing dengan gerakan saya,” ungkap Rahwandi.
Pernyataan tersebut langsung memunculkan tanda tanya besar. Pasalnya, menurut Rahwandi, aktivitas PETI merupakan persoalan hukum dan keselamatan masyarakat yang seharusnya menjadi fokus penertiban, bukan malah diupayakan untuk diredam.
“Yang saya pertanyakan sekarang, kenapa pemerintah daerah sampai ikut masuk terlalu jauh dalam polemik PETI ini? Ada apa sebenarnya?” tegasnya.
Ia menilai, munculnya upaya agar dirinya berhenti bersuara justru bisa memunculkan persepsi negatif di tengah masyarakat.
“Saya hanya menyuarakan soal tambang ilegal, soal korban jiwa, soal lingkungan. Kalau kemudian ada yang mulai sibuk meminta saya berhenti, publik tentu akan bertanya-tanya sendiri,” katanya.
Rahwandi menegaskan, sejak awal dirinya konsisten mendesak aparat penegak hukum agar serius menindak aktivitas PETI di Bone Bolango, termasuk menertibkan tambang ilegal dan tromol yang diduga beroperasi bebas di wilayah pemukiman.
Apalagi sebelumnya, seorang penambang dilaporkan meninggal dunia di titik bor 18 wilayah Tulabolo Timur yang diduga berkaitan dengan aktivitas PETI.
Menurutnya, tragedi tersebut seharusnya menjadi alarm keras bagi semua pihak agar fokus pada penyelesaian persoalan, bukan justru meredam kritik publik.
“Korban sudah ada. Jangan sampai yang sibuk dicari malah orang-orang yang bersuara. Yang harus diselesaikan itu aktivitas ilegalnya,” ujarnya lagi.
Rahwandi juga mengingatkan bahwa sebelumnya dirinya telah memberikan informasi dan laporan resmi kepada Ditreskrimsus Polda Gorontalo terkait dugaan jaringan PETI di Bone Bolango.
Karena itu, ia berharap aparat tetap independen dan tidak terpengaruh oleh pihak mana pun dalam penanganan kasus PETI yang saat ini terus menjadi sorotan masyarakat.
“Kalau memang mau persoalan ini selesai, ya tindak pelakunya, tutup aktivitas ilegalnya. Jangan sampai muncul kesan ada pihak tertentu yang mulai merasa terganggu karena persoalan ini terus dibuka ke publik,” tutupnya.



















