Berita  

‎Rachmat Gobel Soroti Dampak Sosial Akibat Tutupnya Industri Tekstil: “Banyak Anak Kehilangan Orang Tuanya karena PHK”

Doc. Tim Kerja Rachmat Gobel
banner 120x600

Rekam Fakta, Jakarta — Wakil Presiden Syarikat Islam sekaligus Anggota DPR RI Dapil Gorontalo, Rachmat Gobel, menyoroti krisis yang tengah dialami pelaku industri kecil, khususnya sektor tekstil di daerah-daerah seperti Majalaya, Bandung. Menurutnya, banyak pabrik skala kecil yang gulung tikar akibat kebijakan impor tekstil yang tidak terkendali.

‎Pernyataan itu disampaikan Gobel saat menghadiri Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) II dan Milad ke-120 Tahun Syarikat Islam, yang berlangsung di Jakarta Convention Center, Rabu hingga Kamis (4–6 November 2025). Agenda ini sebelumnya dibuka secara resmi oleh Menteri Agama RI, Prof. KH Nazaruddin Umar, MA, di Hotel Sahid Jakarta.

‎“Banyak industri kecil di daerah sudah mulai tutup. Para ibu-ibu yang dulu kerja di pabrik tekstil, sekarang tidak lagi punya pekerjaan,” kata Gobel.
‎Ia mencontohkan, wilayah Majalaya yang dulu dikenal sebagai “Kota Dolar” kini kehilangan denyut ekonominya. “Dulu pemilik pabrik itu orang-orang kuat, tapi sekarang banyak yang tutup. Dampaknya bukan cuma ekonomi, tapi sosial. Banyak keluarga yang pecah karena kehilangan pekerjaan, banyak anak yang kehilangan orang tuanya,” ujarnya.

‎Gobel juga menyinggung fenomena pinjaman online (pinjol) dan stres sosial yang meningkat akibat tekanan ekonomi di kalangan masyarakat kecil.
‎“Dampaknya banyak jadi pinjol, stres. Ada kasus di Bandung, seorang ibu menulis surat sebelum membunuh dua anaknya dan bunuh diri karena putus asa. Ia bilang ‘biar mama masuk neraka, daripada kalian hidup’. Ini dampak sosial yang nyata,” kata Gobel dengan nada prihatin.

‎Dalam dialog tersebut, Ketua Umum Koperasi Pemuda Indonesia (KOPINDO), Erpan Taufik, turut memperkuat pandangan Gobel. Ia menjelaskan bahwa para pelaku tekstil lokal kini tidak mampu bersaing dengan produk impor dari Cina.

‎“Soal tekstil ini, kebetulan ada anggota kami di bidang itu. Mereka sangat terpukul sejak dibukanya keran impor tekstil dari Cina. Banyak pelaku di Majalaya yang terdampak karena kita tidak bisa bersaing harga. Bahkan, ada yang pabriknya masih berdiri, tapi produknya justru impor dari luar,” ujar Erpan.

‎Ia berharap pemerintah meninjau ulang kebijakan kemudahan impor tersebut.
‎“Saya mengharap kepada pemerintah kalau bisa dicabut kemudahan impor barang tekstil dari Cina,” tambahnya.

‎Gobel dalam kesempatan itu juga sempat berdialog dengan sejumlah pelaku usaha muda di sektor konveksi dan sablon. Ia mengapresiasi produk lokal yang dibuat dengan kreativitas tinggi dan mendorong agar produk-produk tersebut memiliki identitas khas Indonesia.
‎“Kenapa tidak bisa jadi andalan khas Indonesia? Bandung punya potensi besar, tinggal diperkuat dari segi desain dan strategi pemasaran,” ujar Gobel.

‎Ia bahkan mencontohkan bagaimana kualitas produk dalam negeri bisa bersaing dengan merek luar. “Kalau di Jepang harga bisa Rp375–400 ribu, kita bisa tekan sampai Rp240 ribu, bahkan Rp150 ribu. Itu luar biasa,” katanya.

‎Gobel menilai, kolaborasi antara koperasi, pelaku UMKM, dan pemerintah menjadi kunci untuk menghidupkan kembali industri tekstil lokal. “Kita perlu strategi marketing yang kuat, tapi juga kebijakan yang berpihak kepada produk dalam negeri,” tegasnya.


‎***