Berita  

‎Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Kota Gorontalo Menanggapi Isu Pelayanan Ambulans Puskesmas Sipatana

‎Ketua Ikatan Apoteker Indonesia Kota Gorontalo, Andi Isna Arifandi (Doc. Rekam Fakta)
banner 120x600

Rekam Fakta, Gorontalo — Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Kota Gorontalo merasa perlu memberikan penjelasan profesional atas dinamika pemberitaan mengenai pelayanan ambulans di Puskesmas Sipatana. Rilis ini disampaikan bukan untuk mengurangi rasa duka keluarga, tetapi untuk menjaga ketenangan publik dan memastikan tenaga kesehatan mendapatkan ruang penilaian yang adil.

Melihat Peristiwa Ini dengan Kepala Dingin

‎Ketua IAI Kota Gorontalo, Andi Isna Arifandi, mengingatkan bahwa pelayanan kegawatdaruratan adalah proses yang melibatkan banyak unsur, bukan keputusan spontan dari satu individu.

‎”Ketika kondisi tidak ideal terjadi, publik sering menilai satu orang sebagai penyebab. Padahal yang bekerja adalah sistem dan sistem tersebut tidak selalu dalam keadaan sempurna,” ujarnya.

‎Dalam kasus Sipatana, indikasi utama yang terlihat bukanlah unsur kesengajaan, tetapi ketidaksinkronan komunikasi.

Rita Bambang: Tenaga Profesional dengan Rekam Jejak Baik

‎Dalam diskursus publik, nama Rita Bambang ikut terseret secara personal.
‎IAI menilai penting untuk menegaskan bahwa Rita adalah salah satu apoteker dengan rekam jejak baik di Kota Gorontalo dan memiliki kontribusi nyata dalam pengembangan layanan kefarmasian.

‎Penegasan ini bukan pembelaan personal, tetapi pengingat bahwa setiap tenaga kesehatan berhak mendapatkan ruang klarifikasi, khususnya mereka yang telah lama berkontribusi pada kesehatan masyarakat.

‎Menyerang karakter pribadi tenaga kesehatan tanpa melihat keseluruhan alur kejadian adalah tindakan yang tidak adil dan dapat melemahkan profesi.

Tenaga Kesehatan Sedang Tertekan – Jangan Tambah Bebannya

‎IAI melihat bahwa tenaga kesehatan bekerja dalam tekanan besar: keterbatasan SDM, permintaan layanan yang meningkat, dan ekspektasi publik yang semakin tinggi.

‎”Dalam situasi ini, keluarga pasien dan petugas Puskesmas sama-sama berada dalam tekanan emosional. Ini yang perlu dipahami bersama,” kata Andi.

‎IAI melalui rilis ini ingin menguatkan mental seluruh tenaga kesehatan, bahwa mereka dihargai dan tidak dibiarkan menghadapi tekanan publik sendirian.

Evaluasi Tetap Perlu, namun tanpa Menyudutkan

‎IAI mendukung langkah Puskesmas Sipatana yang telah melakukan evaluasi internal, menyampaikan duka ke keluarga, dan memilih menjaga situasi tetap kondusif. Sikap ini menunjukkan kedewasaan profesional yang patut dihargai.

Ke depan, perbaikan tetap harus dilakukan, terutama pada:

‎mekanisme rotasi driver,

‎standar komunikasi gawat darurat,

‎dan edukasi masyarakat mengenai alur UGD.

‎Namun perbaikan tersebut harus dilakukan dengan suasana yang tenang, bukan dengan tekanan sosial yang menghakimi.

Penutup: Kesehatan Adalah Ruang Empati

‎IAI Kota Gorontalo mengajak seluruh masyarakat untuk kembali pada nilai utama pelayanan kesehatan: empati, saling memahami, dan tidak terburu-buru menyalahkan.

‎”Mari kita saling menenangkan. Mari saling menguatkan. Kesehatan hanya bisa dibangun bila masyarakat dan tenaga kesehatan saling menghormati,” tutup Andi.

‎***