Rekam Fakta, Tajuk – Musda IV Hanura Gorontalo boleh saja telah selesai digelar. Forum resmi telah ditutup, keputusan diumumkan, dan publik diperlihatkan bahwa seluruh proses berjalan sebagaimana mestinya. Namun dalam politik, cerita sebenarnya sering kali baru dimulai setelah sidang dinyatakan selesai.
Berdasarkan informasi yang didapati Rekam Fakta, Ketua Umum Partai Hanura, Oesman Sapta Odang (OSO), mengundang langsung lima pimpinan sidang Musda IV Hanura Gorontalo ke DPP Hanura di Jakarta pada Selasa, 19 Mei 2026 pukul 12.30 WIB, untuk membicarakan situasi pasca Musda.
Mereka adalah Zulhendri Chaniago, Fence Abas, Ekwan Akhmad, Djafar Badjeber, dan Muhammad Rozy.
Pertemuan itu bukan agenda biasa. Hadir pula jajaran penting DPP Hanura, mulai dari Wakil Ketua Umum Bidang Organisasi, Kaderisasi dan Keanggotaan (OKK), Akhmad Muqowam, hingga Sekretaris Jenderal Benny Rhamdani. Bahasa politiknya sederhana, pusat sedang memberi perhatian serius terhadap dinamika yang berkembang di Gorontalo.
Situasi ini makin memantik tanda tanya setelah munculnya dinamika terkait satu nama yang sebelumnya disebut-sebut mendapat rekomendasi dari DPP, yakni Hamid Kuna. Di tengah proses politik yang sedang berjalan, Hamid justru memilih mundur tanpa penjelasan terbuka ke publik.
Yang menarik, hingga kini Hamid Kuna belum memberikan klarifikasi resmi terkait langkah politiknya tersebut. Ia hanya menyampaikan bahwa siap menjelaskan langsung kepada Ketua Umum apabila dipanggil.
Pernyataan itu sederhana, tetapi cukup membuat ruang tafsir politik semakin melebar.
Publik kemudian mendapati adanya gerak lain yang tidak biasa. Dua pimpinan sidang Musda IV diketahui berangkat ke Jakarta menggunakan pesawat berbeda, sehari setelah undangan dilayangkan.
Bagi sebagian orang, itu mungkin sekadar urusan teknis perjalanan. Namun politik tidak pernah sesederhana jadwal penerbangan. Ada komunikasi yang tidak selalu dibuka ke publik, ada pembicaraan yang memang lebih nyaman dilakukan dalam ruang tertutup.
Hanura Gorontalo saat ini tampaknya sedang berada pada fase yang sensitif. DPP tentu berkepentingan memastikan seluruh dinamika pasca Musda tidak berkembang menjadi beban politik internal yang berkepanjangan.
Di sisi lain, publik mulai membaca adanya kemungkinan lahirnya arah baru di tubuh Hanura Gorontalo. Tidak harus dalam bentuk konflik terbuka, tetapi bisa saja berupa reposisi kekuatan, penataan ulang strategi, hingga perubahan arah dukungan politik di internal partai.
Dalam tradisi politik partai, pemanggilan elite daerah ke Jakarta hampir tidak pernah sekadar silaturahmi. Selalu ada pesan yang ingin dipastikan sampai, ada situasi yang ingin dibaca langsung, atau bahkan ada keputusan yang sedang dimatangkan secara perlahan.
Karena itu, pertanyaan publik hari ini terasa wajar, sebenarnya ada apa dengan Hanura Gorontalo?
Sebab semakin banyak gerak yang dilakukan dalam senyap, semakin besar pula rasa penasaran publik terhadap apa yang sedang disiapkan di balik dinamika pasca Musda kali ini.















