Berita  

Pabrik Pakan Ternak Terintegrasi di Gorut Diproyeksikan Jadi Titik Balik Kesejahteraan Petani Jagung dan Peternak Mandiri

Doc. Istimewa
banner 120x600

Rekam Fakta, Gorontalo — Rencana pembangunan pabrik pakan ternak terintegrasi di Kabupaten Gorontalo Utara diproyeksikan menjadi titik balik kesejahteraan petani jagung dan peternak mandiri di Provinsi Gorontalo.

Pemerintah Provinsi Gorontalo bersama Pemerintah Kabupaten Gorontalo Utara saat ini tengah menyiapkan program hilirisasi ayam terintegrasi yang direncanakan mulai berjalan pada tahun depan. Program ini merupakan bagian dari Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yang mencakup pembangunan pabrik pakan ternak, pembibitan, penetasan telur, cold storage, serta Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU).

Program tersebut nantinya akan bekerja sama dengan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, dengan rencana pembangunan oleh PTPN III (Holding). Provinsi Gorontalo sendiri masuk dalam klaster pertama pembangunan pada tahun 2026. Program ini diharapkan mampu memperkuat ekosistem pangan nasional serta meningkatkan daya saing peternak melalui sistem perunggasan yang lebih terpadu.

Jasin Mohammad selaku Direktur PT Gorontalo Pangan Sejahtera menyatakan dukungannya terhadap rencana tersebut. Menurutnya, kehadiran pabrik pakan ternak terintegrasi akan menambah pilihan bagi peternak, khususnya peternak mandiri yang selama ini sangat bergantung pada perusahaan integrator besar.

“Pada dasarnya kami mendukung. Semakin banyak pilihan bagi peternak, terutama peternak mandiri, akan semakin baik. Kehadiran pabrik pakan ternak yang terintegrasi ini dapat memberikan peluang agar peternak tidak terlalu bergantung pada perusahaan integrator besar, di mana selama ini bahan baku pakan ternak seperti jagung yang dikirim dari Gorontalo dalam bentuk pipilan ke feedmill di Pulau Jawa untuk diolah menjadi pakan ternak, lalu hasil pakan tersebut kembali dijual di Gorontalo dalam bentuk bundling pakan dan DOC sehingga harga pakan dan DOC dikontrol oleh integrator,” ujar Jasin.

Saat diwawancarai di salah satu warung kopi di pusat Kota Gorontalo, Senin (22/12/2025), Jasin menjelaskan bahwa manfaat paling cepat dirasakan dari pembangunan pabrik pakan adalah meningkatnya penyerapan jagung lokal, terutama saat musim panen. Ia menilai selama ini Gorontalo dikenal sebagai sentra jagung, namun belum memiliki industri pakan ternak yang memadai.

Karena itu, hadirnya pabrik pakan terintegrasi diyakini akan memicu persaingan pembelian jagung di tingkat lokal serta mendongkrak kemajuan sektor perunggasan di wilayah Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Maluku, Kalimantan, hingga Papua.

“Yang pertama adalah penyerapan jagung saat musim panen. Dengan hadirnya pabrik, akan ada kompetisi penyerapan jagung lokal yang bisa memicu petani menanam lebih banyak komoditas ini, serta akan mendongkrak kemajuan perunggasan. Kelebihan produksi pakan ternak, telur, dan ayam yang dihasilkan bisa didistribusikan ke daerah tetangga yaitu Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Maluku, Kalimantan, dan Papua,” jelas Jasin yang juga menjabat Wakil Ketua Umum Kadin Provinsi Gorontalo.

Lebih lanjut, sesuai usulan Bupati Gorontalo Utara, wilayah yang direncanakan menjadi lokasi pembangunan pabrik pakan ternak terintegrasi berada di Kecamatan Anggrek, Kabupaten Gorontalo Utara, tepatnya di kawasan industri.

Jasin juga mendorong kesiapan infrastruktur transportasi ke wilayah Maluku, Papua, dan Kalimantan, khususnya kesiapan kapal kontainer serta fasilitas di Pelabuhan Anggrek yang dikelola oleh PT Anggrek Gorontalo Terminal Internasional (AGIT).

“Saya merasa bersyukur dengan pertemuan Gubernur Gorontalo dan Bapak Rachmat Gobel minggu barusan dalam rangka percepatan penetapan usulan wilayah Anggrek Gorontalo Utara menjadi Kawasan Ekonomi Khusus. Sehingga program ini dapat menjadi titik balik stabilitas harga dan efisiensi produksi. Di mana kelebihan hasil produksi pakan ternak, telur, dan ayam potong bisa dikirim ke daerah tetangga yaitu Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Maluku, Kalimantan, dan Papua,” ungkapnya.

Jasin juga meyakini bahwa hilirisasi yang dikelola secara tepat dapat menekan biaya produksi peternak hingga Rp600–1.000 per kilogram serta mengurangi praktik bundling pakan dan DOC oleh integrator besar yang selama ini dinilai merugikan peternak.

Ia menambahkan, pembangunan pabrik pakan terintegrasi juga berpotensi mengurangi peran broker serta membuka peluang pemasaran langsung bagi peternak.

“Selama ada koperasi dan offtaker seperti para perusahaan jagung di Gorontalo serta akses produksi yang memadai, peternak bisa mandiri 100 persen. Harga pun lebih stabil karena ada kompetitor baru,” ujarnya.

Jasin sepakat bahwa program hilirisasi ayam terintegrasi harus dirancang agar mampu bersaing secara sehat. Menurutnya, program ini merupakan langkah penting menuju kemandirian sektor perunggasan nasional serta mendorong hilirisasi yang memberi ruang lebih besar bagi peternak rakyat, UMKM, dan koperasi.

Ia meyakini peternak rakyat dapat jauh lebih sejahtera, sekaligus mampu menyuplai kebutuhan unggas dan telur untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis.

“Peternak rakyat bisa jauh lebih sejahtera dan kebutuhan unggas serta telur bisa disuplai juga untuk Program Makan Bergizi Gratis,” tutup Jasin yang juga menjabat Ketua Asosiasi Perhimpunan Pedagang dan Produsen Jagung Indonesia Provinsi Gorontalo.