Berita  

Rachmat Gobel Sulap PENAS XVII Menjadi Panggung Promosi Besar untuk Gorontalo

Doc. Tim Kerja Rachmat Gobel
banner 120x600

Rekam Fakta, Gorontalo – Puncak pembukaan Hari Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII Tahun 2026 menjadi momen yang sangat bersejarah bagi Gorontalo. Di balik kemeriahan yang disaksikan ribuan peserta dari seluruh Indonesia, terdapat sosok yang sejak awal konsisten mendorong agar momentum nasional ini tidak hanya sukses sebagai agenda pertanian dan perikanan, tetapi juga menjadi panggung besar untuk memperkenalkan Gorontalo kepada Indonesia. Sosok itu adalah Anggota DPR RI, Rachmat Gobel.

Sejak jauh hari sebelum PENAS XVII digelar, Rachmat Gobel terlihat aktif mengawal berbagai persiapan. Tidak hanya berbicara tentang kelancaran acara, mantan Menteri Perdagangan itu juga mendorong agar setiap sudut Gorontalo mampu meninggalkan kesan mendalam bagi para tamu yang datang.

Baginya, PENAS bukan sekadar pertemuan petani dan nelayan. Lebih dari itu, PENAS adalah kesempatan langka yang belum tentu kembali hadir dalam waktu dekat. Karena itu, momentum tersebut harus dimanfaatkan untuk menunjukkan wajah terbaik Gorontalo kepada ribuan peserta yang datang dari berbagai provinsi.

Pemikiran itulah yang kemudian melahirkan berbagai upaya pembenahan dan penataan sejumlah titik strategis yang menjadi perhatian publik selama menjelang pelaksanaan PENAS. Mulai dari destinasi wisata, ruang publik, hingga berbagai ikon daerah yang diharapkan dapat menjadi daya tarik bagi para tamu.

Rachmat Gobel bahkan berulang kali menyampaikan bahwa setiap peserta PENAS harus pulang dengan membawa lebih dari sekadar pengalaman mengikuti kegiatan nasional. Mereka harus membawa cerita tentang Gorontalo, tentang keindahan alamnya, kekayaan budayanya, hasil pertaniannya, kulinernya, hingga keramahan masyarakatnya.

“Kalau mereka pulang hanya membawa catatan hasil diskusi, itu biasa. Tapi kalau mereka pulang sambil bercerita tentang Gorontalo kepada keluarga dan daerahnya masing-masing, itu luar biasa,” demikian semangat yang selama ini terus didorong Gobel dalam berbagai kesempatan.

Tak heran jika menjelang pembukaan PENAS XVII, sejumlah kawasan wisata dan ruang publik mendapat perhatian khusus. Mulai dari kawasan Pentadio Resort yang direvitalisasi, penataan berbagai titik strategis, hingga penguatan promosi produk-produk unggulan daerah. Semua itu dilakukan dengan satu tujuan, yakni menjadikan Gorontalo tampil lebih percaya diri di hadapan tamu nasional.

Bagi Gobel, keberhasilan PENAS tidak hanya diukur dari suksesnya acara seremonial, tetapi juga dari seberapa besar dampak yang ditinggalkan bagi masyarakat. Kehadiran ribuan peserta dari seluruh Indonesia diyakini mampu menggerakkan sektor ekonomi lokal, mulai dari UMKM, transportasi, perhotelan, kuliner, hingga pelaku usaha kecil yang menjadi bagian penting dari denyut perekonomian daerah.

Pada puncak pembukaan PENAS XVII, Gobel kembali menegaskan rasa syukur dan kebanggaannya atas kepercayaan yang diberikan kepada Gorontalo sebagai tuan rumah. Menurutnya, kesempatan tersebut menjadi momentum emas untuk memperlihatkan bahwa daerah kecil di utara Sulawesi itu memiliki potensi besar yang layak diperhitungkan di tingkat nasional.

Ia menilai PENAS XVII juga menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan petani, nelayan, penyuluh, akademisi, pelaku usaha, dan pemerintah dalam satu semangat yang sama, yakni membangun ketahanan pangan dan memperkuat sektor pertanian Indonesia.

“Melalui kegiatan ini kita saling belajar, berbagi pengalaman, membangun jejaring, dan memperkuat kolaborasi. Kemajuan pertanian dan perikanan Indonesia tidak bisa dibangun sendiri-sendiri, tetapi harus melalui kerja sama dan semangat kebersamaan,” ujar Gobel.

Di tengah gemerlap pembukaan PENAS XVII, ada pesan yang ingin disampaikan Rachmat Gobel kepada seluruh masyarakat Gorontalo. Bahwa menjadi tuan rumah bukan sekadar menerima tamu, tetapi tentang bagaimana meninggalkan kesan yang tak terlupakan.

Karena itu, bagi Gobel, PENAS XVII bukan hanya agenda nasional yang berlangsung beberapa hari. PENAS adalah kesempatan untuk memperkenalkan jati diri Gorontalo kepada Indonesia, memperlihatkan potensi yang selama ini mungkin belum banyak dikenal, sekaligus membuka peluang baru bagi pembangunan daerah di masa depan.

“PENAS XVII akan berakhir, tetapi dampaknya harus terus hidup. Jika setelah kegiatan ini semakin banyak orang mengenal Gorontalo, datang berwisata ke Gorontalo, berinvestasi di Gorontalo, dan percaya pada potensi Gorontalo, maka itulah keberhasilan yang sesungguhnya. PENAS adalah panggungnya, tetapi Gorontalo adalah bintang utamanya,” pungkas Gobel.