Berita  

70 Tahun Mengabdi, Gobel Group dan Mimpi Besar Membangun Ekonomi Rakyat Gorontalo

Rachmat Gobel Saat Diwawancarai (Doc. Rekam Fakta)
banner 120x600

Rekam Fakta, Gorontalo – Di tengah semarak PENAS XVII Tahun 2026 di Pentadio Resort, terdapat satu stan yang menyita perhatian pengunjung. Stan tersebut bukan sekadar memamerkan perjalanan 70 tahun Gobel Group, tetapi juga menghadirkan jejak panjang pengabdian keluarga Gobel kepada petani Indonesia yang dimulai sejak era almarhum Drs. H. Thayeb Mohammad Gobel.

Pada salah satu panel pameran tertulis pesan yang menjadi fondasi perjalanan Gobel Group.

“Kami bangga orang Gorontalo berhasil membuat radio. Tapi saudara-saudaramu di kampung adalah petani. Kami akan lebih bangga jika kamu bisa membantu mereka mengolah tanah.”

Pesan sang ayah kepada Thayeb Gobel itulah yang kemudian melahirkan berbagai inovasi untuk sektor pertanian. Bahkan sejak tahun 1963, Gobel Group telah membawa teknologi ke sawah melalui PT Paditraktor dengan menghadirkan traktor, pengering gabah, penyemprot hama hingga mesin pengolah beras guna meningkatkan produktivitas petani.

Lebih dari enam dekade kemudian, semangat yang sama masih hidup dan diteruskan oleh Anggota DPR RI, Rachmat Gobel.

Saat meninjau stan pameran Gobel Group di Pentadio Resort, Rachmat Gobel menegaskan bahwa masa depan pertanian Gorontalo tidak boleh hanya bertumpu pada satu komoditas semata.

Menurutnya, Gorontalo harus mulai bergerak menuju diversifikasi pertanian yang mampu menghasilkan nilai tambah lebih besar bagi masyarakat.

“Kita jangan hanya tanaman jagung saja. Kalau hanya jagung, nilai tambahnya tidak akan besar. Karena terbukti, jagung yang kita banggakan belum sepenuhnya memberikan manfaat ekonomi yang maksimal kepada masyarakat,” ujar Gobel.

Karena itu, ia mendorong pengembangan berbagai komoditas unggulan seperti kakao, kopi Pinogu, kacang tanah, kedelai, singkong, pisang hingga bambu petung.

Bahkan sejumlah produk hasil pengembangan tersebut telah berhasil menembus pasar internasional.

“Kami membuat produk dengan merek Utanaha dan berhasil dipasarkan di Jepang serta Perancis. Artinya, produk-produk Gorontalo memiliki peluang besar untuk bersaing di pasar dunia,” katanya.

Namun bagi Gobel, pengembangan pertanian tidak berhenti pada peningkatan produksi semata. Yang lebih penting adalah membangun rantai nilai dari hulu hingga hilir agar manfaat ekonomi tetap berada di Gorontalo.

Karena itu ia mendorong kerja sama dengan berbagai off taker dan industri pengolahan sehingga hasil pertanian masyarakat langsung terhubung dengan pasar dan industri.

“Kita tidak boleh lagi hanya bicara tanam lalu selesai. Yang penting bagaimana menciptakan nilai tambah di Gorontalo. Kalau ada nilai tambah, maka akan lahir lapangan kerja bagi anak-anak muda Gorontalo,” tegasnya.

Konsep yang didorong Gobel juga lebih luas dari sekadar pertanian. Ia ingin membangun desa-desa berbasis agrowisata, di mana perkebunan dan pertanian menjadi bagian dari destinasi wisata yang mampu menggerakkan ekonomi masyarakat.

Menurutnya, pengalaman selama PENAS membuktikan bahwa masyarakat dapat memperoleh manfaat ekonomi besar ketika wisata tumbuh dan wisatawan tinggal di rumah-rumah warga.

“Kalau ini kita jadikan agrowisata, manfaatnya akan dirasakan masyarakat luas. Bukan hanya petaninya, tetapi juga masyarakat di sekitarnya,” ujarnya.

Semangat membangun ruang ekonomi rakyat itu juga terlihat dari berbagai proyek revitalisasi yang digagasnya di Gorontalo, mulai dari Taman Menara Limboto, Danau Perintis hingga Pentadio Resort.

Awalnya, kata Gobel, ia hanya ingin menyediakan ruang yang layak bagi keluarga-keluarga Gorontalo untuk berkumpul dan menikmati waktu bersama. Namun seiring waktu, kawasan-kawasan tersebut berkembang menjadi destinasi wisata yang memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat.

“Saya ingin kesejahteraan itu bukan hanya soal pendapatan. Tapi juga bagaimana masyarakat memiliki tempat yang baik untuk membangun keluarga yang bahagia,” katanya.

Bagi Gobel, pembangunan wisata dan pertanian sejatinya memiliki tujuan yang sama, yakni menciptakan kesejahteraan masyarakat melalui pendekatan yang berkelanjutan.

Karena itu revitalisasi Pentadio Resort yang dilakukan menjelang PENAS tidak akan berhenti setelah kegiatan nasional tersebut berakhir.

Ia berharap kawasan itu dapat terus berkembang dan menjadi salah satu ikon wisata baru Gorontalo yang memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Di akhir kunjungannya ke stan pameran, Gobel menjelaskan bahwa tema “70 Tahun Gobel Mengabdi untuk Negeri” sengaja dipusatkan di Gorontalo sebagai bentuk rasa syukur sekaligus penghormatan kepada tanah kelahiran leluhurnya.

“Ini ungkapan terima kasih kepada masyarakat Gorontalo, pemerintah daerah, dan kepada leluhur saya. Karena dari sinilah perjalanan itu bermula,” ujar Gobel.

Stan pameran Gobel Group di Pentadio Resort pun menjadi lebih dari sekadar catatan sejarah perusahaan. Ia menjadi pengingat bahwa pesan sederhana Thayeb Gobel puluhan tahun lalu tentang membantu petani ternyata terus hidup hingga hari ini, menjelma menjadi gagasan besar tentang pertanian modern, hilirisasi, agrowisata, dan pembangunan ekonomi rakyat yang berkelanjutan di Gorontalo.

“Dari radio hingga sawah, dari teknologi hingga agrowisata, semangat pengabdian itu tetap sama: menghadirkan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat.”