Rekamfakta.com, Kota Gorontalo – Sejumlah Mahasiswa yang tergabung dalam Forum Presiden BEM se Provinsi Gorontalo mempertanyakan terkait anggaran beasiswa Pemprov yang direalokasi untuk penanganan COVID-19 serta langkah Polda Gorontalo dalam menjaga Kamtibmas agar tetap kondusif.
Hal itu mengemuka pada Silaturahim Forkopimda dengan Presiden BEM yang berlangsung di Domestique Cafe, Sabtu (4/7/2020).
Turut hadir dalam Silaturahmi ini ialah Gubernur Gorontalo Rusli Habibie, Kapolda Gorontalo Irjen Pol. Dr. M. Adnas, M.Si, Danrem 133/NWB, Kabinda dan Kajati Provinsi Gorontalo.
“Ini bukan hendak meminta-minta beasiswa, tetapi di tengah Pandemi COVID-19 seperti ini, banyak orang tua Mahasiswa yang merasakan kesusahan, khususnya karena dampak perekonomian. Maka dari itu slogan bahwa kami kecewa dengan Gubernur Gorontalo karena beasiswa digeser untuk pandemi covid-19,” ucap Presiden BEM UG, Mohamad Akbar Iyou.
Menurutnya, aksi yang sempat viral beberapa bulan lalu sebagai bentuk kekecewaan mahasiswa akibat dari direalokasinya anggaran beasiswa untuk penanganan COVID-19. Mahasiswa calon penerima beasiswa beramai-ramai mengganti foto profil akun Medsos dengan tagar : Kami Kecewa dengan Gubernur Gorontalo.
Menanggapi hal tersebut, Gubernur Rusli menjelaskan secara blak-balakan, dimana pergeseran anggaran diawal Pandemi COVID-19 merupakan sebuah keharusan. Pemerintah pusat sudah menginstruksikan agar setiap daerah memfokuskan anggaran untuk tiga hal penting yakni sektor kesehatan, Jaring Pengamanan Sosial dan pemulihan ekonomi.
“Namanya Pertanian, PU, Infrastruktur itu dipotong semua. Kalau kami tidak realokasi, langsung dipotong kurang lebih Rp.300 Milyar anggarannya. Untuk penanganan COVID-19 bukan hanya Provinsi, tapi juga Kabupaten dan Kota. Anggaran pemerintah pusat 650 triliun direalokasi untuk COVID-19,” beber Rusli.
Mantan Bupati Gorontalo Utara itu menambahkan, alokasi untuk beasiswa tidak semuanya direalokasi. Ada beasiswa yang sifatnya prioritas yakni untuk beasiswa dokter umum dan dokter spesialis yang memang ilmu dan tenaganya sangat dibutuhkan Daerah.
“Sekarang kita lebih selektif. Bukan saya mengabaikan ilmu yang lain, tidak, tapi Gorontalo butuh dokter, baik umum dan spesialis. Kita butuh orang Gorontalo yang jadi dokter yang sampai mati pun dia berkarya untuk Gorontalo,” tegasnya.
Ia berharap Mahasiswa memahami kondisi daerah secara utuh. Jika ada hal yang ingin disampaikan, Rusli membuka diri. Bahkan nomor HP pribadinya diumumkan di semua media sebagai tempat untuk mengadu, bertanya atau menyampaikan kiritik.
Terkait situasi Kamtibmas di Provinsi Gorontalo, Kapolda Gorontalo Irjen Pol. Dr. M. Adnas, M.Si menyampaikan bahwa dalam menyikapi keadaan masyarakat sekarang ini, Polri tetap mengedepankan upaya Persuasif, Humanis dan berempati kepada Masyarakat.
Kapolda juga mengatakan, mengelola keamanan di suatu Provinsi pasti tentu banyak dinamikanya dan upaya-upaya yang dilakukan. Semenjak menjadi Kapolda, tentu banyak hal yang sudah kami lakukan dalam mengkaji dan mengevaluasi sumber kriminalisasi. Dimana kita ketahui bersama kriminalitas ini terjadi berawal dari Miras Cap Tikus, oleh sebab itu kami sudah melakukan tindakan kepada oknum atau bandar serta pemusnahan miras sebanyak 36 ton yang dilakukan pada bulan Juni kemarin.
“Menyikapi penyebaran COVID-19, Polda Gorontalo juga berinovasi dengan merubah Cap Tikus menjadi Handsanitizer yang nantinya akan dibagikan kepada masyarakat,” terang Adnas kepada Mahasiswa.
Selain itu, semenjak menjadi Kapolda di Provinsi Gorontalo, Adnas berharap agar keamanan dan ketertiban masyarakat tetap aman dan kondusif karena saat ini Polda Gorontalo merupakan Polda yang paling kondusif, dimana angka kriminalitas yang sangat rendah diantara 34 polda lainnya.
(0N4L/RF)















