Rekamfakta.com, Kota Gorontalo – Survey indeks kepuasan masyarakat terhadap kinerja Pemerintah Provinsi Gorontalo dengan nilai 80% itu adalah tidak betul dan hal ini bisa silahkan dikaji menurut Adhan Dambea, SH., S.Sos., MA.
“Memang kalau survey itu sudah merupakan hal yang biasa kalau di bayar sesuai permintaan pemesannya, jadi saya menilai Rusli Habibie sebagai Gubernur Gorontalo gagal dalam pemerintahannya karena bayangkan saja angka kemiskinan cuma turun 0,8 % pada tahun 2020, tidak sampai 1 %, sementara masyarakat miskin itu belanjanya sehari itu hanya Rp.12.000 sekian, berarti sekali makan hanya Rp. 6000 sekian,” ungkap Adhan.
“Jadi sembako NKRI itu bukan merupakan jaminan untuk menurunkan angka kemiskinan, cuma itu dijadikan alat untuk kepentingan politik. Saya pernah bilang pada waktu Debat Cagub di Metro TV bahwa Kartu NKRI itu dijadikan alat untuk membohongi rakyat,” sambungnya lagi.
Adhan menambahkan bahwa anggaran dana hibah misalnya untuk SPN Polda Gorontalo adalah wajar, karena itu untuk kepentingan masa depan anak-anak kita, tapi jika untuk dana hibah ke Kejaksaan Tinggi apa kepentingannya, kalau misalnya kantor Kejaksaan Tinggi itu sudah roboh, dan dibangun baru lagi, bisa saja, tapi kalau hanya untuk kepentingan renovasi yang tidak terlalu mendesak, apa kepentingan Gubernur memberikan hibah ke Kejaksaan Tinggi, makanya Adhan sempat mengatakan kemarin di beberapa Media Online bahwa dana hibah ke Kejaksaan Tinggi itu diduga tukar guling terkait dengan kasus GORR.
“Jadi saya melihat jika uang rakyat ini seenaknya digunakan oleh Gubernur sesuai keinginan pribadinya, sesuai kepentingan politiknya, sesuai kepentingan perkaranya dan kepentingan segala macam dan lain sebagainya, sementara masih banyak rakyat yang begitu menderita,” ketus Adhan.
“Rusli Habibie pernah bikin kegiatan Touring dari Gorontalo-Manado-Makassar dengan menggunakan APBD 1,2 Milyar dan dengan alasan untuk memperkenalkan pariwisata, itu hanya akal bulusnya dan tidak ada manfaatnya, Pariwisata yang mana, saya pernah berkunjung ke Perbatasan Gorontalo – Bolsel dan singgah di Tempat wisata Olele, tapi saya lihat Olele itu sangat memprihatinkan kondisinya,” ungkapnya
“Kalau kegiatan Touring itu untuk memperkenalkan Pariwisata di Gorontalo, maka sesungguhnya potensi wisata itu ada di Kabupaten/Kota kita sendiri, bukan di luar daerah, kenapa dengan Anggaran begitu besar tidak digunakan membantu Kabupaten/Kota yang ada di Gorontalo untuk pembenahan potensi wisata kita sendiri, bukan malahan Touring ke luar daerah Gorontalo dengan menghabiskan APBD 1,2 Milyar,” pungkas Aleg DPRD Provinsi Gorontalo ini.
(0N4L/RF)





















