Rekam Fakta, Gorontalo – Ketua Perhimpunan Persahabatan Indonesia–Jepang (PPIJ), , menegaskan bahwa komitmen investasi Jepang di Indonesia senilai Rp384 triliun bukan sekadar formalitas atau janji di atas kertas.
Pernyataan itu disampaikan Gobel menanggapi penandatanganan 10 nota kesepahaman (MoU) antara Indonesia dan Jepang dalam kunjungan Presiden ke Tokyo, Kamis (2/4/2026).
“Ini bukan basa-basi. Jepang itu serius. Mereka tidak biasa membuat komitmen tanpa perhitungan matang. Tantangannya justru ada di pelaksanaan di lapangan,” ujar Gobel.
Sepuluh MoU tersebut mencakup berbagai sektor strategis, mulai dari energi, industri, teknologi, hingga keuangan, dengan total nilai mencapai 22,6 miliar dolar AS atau sekitar Rp384 triliun. Di antaranya kerja sama pengembangan metanol berbasis emisi CO₂ di Bontang, pengembangan Blok Masela oleh Inpex dan Pertamina, hingga pembangunan ekosistem semikonduktor dan kecerdasan buatan (AI).
Selain itu, terdapat pula kerja sama di sektor panas bumi, aviasi, investasi, inklusi keuangan, hingga penguatan hubungan dagang antara Kadin Jepang dan Kadin Indonesia.
Meski begitu, sejumlah pihak menilai sebagian besar proyek dalam MoU tersebut merupakan kelanjutan dari rencana lama yang belum sepenuhnya terealisasi, dan hanya sebagian kecil yang benar-benar baru. Menanggapi hal itu, Gobel menegaskan bahwa karakter investasi Jepang berbeda—cenderung hati-hati, tetapi konsisten dalam realisasi.
Menurutnya, komitmen Presiden yang menjamin kepastian dan kenyamanan investasi menjadi sinyal penting bagi investor Jepang. Bahkan, pernyataan tersebut disambut positif oleh para pelaku usaha Jepang yang hadir dalam forum tersebut.
“Mereka langsung bertepuk tangan. Itu artinya mereka menunggu kepastian di lapangan, bukan sekadar penandatanganan,” jelasnya.
Gobel menekankan bahwa kunci utama realisasi investasi kini berada pada kesiapan pemerintah, baik pusat maupun daerah, dalam memberikan kemudahan regulasi serta memastikan tidak ada hambatan birokrasi di lapangan.
Ia optimistis sejumlah proyek strategis seperti Blok Masela dan kerja sama investasi aviasi akan segera terealisasi, apalagi pertemuan tersebut juga dihadiri para pimpinan perusahaan besar Jepang seperti JBIC, Mitsubishi, Mitsui, Tokyo Gas, Marubeni, Sumitomo, Sojitz, Toyota, Panasonic, Inpex, hingga Takeda.
“Mereka adalah para pengambil keputusan. Jadi peluang realisasi itu sangat terbuka, tinggal bagaimana kita menyiapkan eksekusinya,” pungkas Gobel. (*)




























