Rekam Fakta, Gorontalo – Koordinator Aliansi Pemuda dan Masyarakat Peduli Keadilan (APMPK), Rahwandi Botutihe, mengaku terkejut dan prihatin setelah kembali menerima informasi adanya korban jiwa di lokasi Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) kawasan Tulabolo Timur, Kecamatan Suwawa Timur, Kabupaten Bone Bolango.
Peristiwa tersebut terjadi hanya beberapa hari setelah Rahwandi menerima Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan (SP2HP) dari Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Gorontalo terkait laporan dugaan aktivitas PETI di wilayah Bone Bolango yang sebelumnya ia sampaikan kepada aparat penegak hukum.
Berdasarkan informasi yang diterima, seorang penambang asal Kecamatan Bone dilaporkan meninggal dunia setelah tertimbun material akibat ambruknya lubang tambang di kawasan PETI Tibor 17, Desa Tulabolo, Jumat (5/6/2026).
Yang menjadi perhatian Rahwandi, lokasi kejadian tersebut diduga merupakan lubang tambang yang dikelola oleh seorang pria berinisial YG alias KSN. Nama tersebut, menurut Rahwandi, juga termasuk dalam rangkaian informasi dan data yang pernah disampaikan kepada Ditreskrimsus Polda Gorontalo dalam laporan terkait dugaan aktivitas PETI di Bone Bolango yang saat ini masih dalam proses penyelidikan dan pengembangan.
“Beberapa hari lalu saya menerima SP2HP dari Ditreskrimsus Polda Gorontalo. Di dalam surat itu dijelaskan bahwa penyelidikan telah dilakukan di lapangan dan penyidik akan meminta keterangan sejumlah saksi. Namun di tengah proses itu, saya justru menerima kabar adanya korban jiwa lagi di lokasi PETI,” ujar Rahwandi.
Rahwandi menjelaskan, melalui SP2HP Nomor B/SP2HP/928/VI/RES.5.5/2026/Ditreskrimsus tertanggal 2 Juni 2026, penyelidik menyampaikan telah melakukan penyelidikan langsung di lokasi serta menjadwalkan permintaan keterangan terhadap sejumlah saksi pada 9 Juni 2026.
Menurutnya, tragedi tersebut semakin menguatkan kekhawatiran yang selama ini disuarakan berbagai pihak terkait risiko besar aktivitas pertambangan ilegal yang masih berlangsung di kawasan Suwawa Timur.
Apalagi, kata Rahwandi, ini bukan kali pertama korban jiwa terjadi di wilayah PETI Tulabolo Timur. Sebelumnya, insiden serupa juga terjadi di kawasan Tibor 18 yang sempat menjadi perhatian publik dan mendorong dirinya untuk mendesak aparat agar bertindak lebih tegas terhadap aktivitas PETI.
“Ketika korban sebelumnya terjadi di Tibor 18, kami sudah menyampaikan bahwa kondisi ini sangat berbahaya dan berpotensi kembali memakan korban jika tidak ditangani secara serius. Hari ini, kekhawatiran itu kembali menjadi kenyataan,” tegasnya.
Rahwandi menilai munculnya korban jiwa baru di tengah berlangsungnya proses penyelidikan menjadi alarm keras bagi seluruh pihak bahwa persoalan PETI di Bone Bolango tidak hanya berkaitan dengan pelanggaran hukum, tetapi juga menyangkut keselamatan dan nyawa manusia.
“Kami tentu mengapresiasi langkah Ditreskrimsus yang telah menindaklanjuti laporan masyarakat. Namun tragedi ini menunjukkan bahwa persoalan PETI membutuhkan langkah yang lebih cepat, lebih terukur, dan lebih tegas. Karena yang dipertaruhkan bukan hanya soal penegakan hukum, tetapi juga nyawa masyarakat,” katanya.
Ia berharap proses penyelidikan yang sedang berjalan dapat mengungkap seluruh fakta yang berkaitan dengan aktivitas PETI di Bone Bolango, termasuk pihak-pihak yang diduga memiliki keterkaitan dengan kegiatan tersebut.
“Publik tentu menaruh harapan besar agar proses yang sedang berjalan dapat memberikan kepastian hukum sekaligus menjadi langkah nyata untuk mencegah jatuhnya korban berikutnya. Jangan sampai setiap tragedi hanya menjadi catatan duka yang terus berulang tanpa penyelesaian yang jelas,” ujar Rahwandi.
Di akhir keterangannya, Rahwandi menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban dan meminta seluruh pihak menjadikan peristiwa tersebut sebagai peringatan serius bahwa aktivitas pertambangan tanpa izin terus menghadirkan risiko yang sewaktu-waktu dapat merenggut nyawa.
“Sudah terlalu banyak peringatan yang muncul dari lokasi PETI. Jangan sampai harus ada korban berikutnya baru semua pihak benar-benar bergerak,” pungkasnya.





















