Berita  

‎Dari Tanah Suci ke Panggung DPRD: Klarifikasi Mustafa Yasin Dinilai Lukai Hati Jamaah

Doc. Rekam Fakta
banner 120x600

Rekam Fakta, Gorontalo — Klarifikasi yang disampaikan Mustafa Yasin, Direktur PT Novavil Travel Mutiara Utama, dalam konferensi pers di DPRD Provinsi Gorontalo pada Senin (4/8/2025) justru memantik gelombang kekecewaan baru di tengah para jamaah haji yang merasa menjadi korban.

‎Alih-alih menjernihkan keadaan, pernyataan Mustafa dinilai memutarbalikkan fakta dan menyakiti perasaan jamaah yang merasa ditipu dan ditelantarkan. Banyak dari mereka bahkan menyesal tidak diundang menyaksikan langsung konferensi pers tersebut.

‎”Kenapa tidak beri tahu kami, biar kami bisa komentar langsung, bahwa memang kami ditipu dan ditelantarkan,” ujar seorang jamaah dengan nada kecewa.

‎Kemarahan jamaah semakin membuncah setelah mengetahui bahwa Mustafa telah kembali ke Gorontalo secara diam-diam. Padahal, sejumlah kepala cabang travel masih menyebut dirinya berada di Makkah.

‎”Pak Ahmad Yani di Morowali bilang Mustafa masih di Makkah, begitu juga yang di Ternate. Kalau benar dia sudah di Gorontalo, berarti mereka semua bohongin kita,” tutur seorang jamaah dari Morowali dengan nada getir.

‎Banyak jamaah berasal dari daerah-daerah pelosok. Mereka mendaftar haji dengan pengorbanan luar biasa—ada yang menjual sapi, sawah, bahkan kebun. Janji diberangkatkan⁸ menggunakan visa haji furoda, menginap di hotel bintang lima, dan mendapat layanan eksklusif ternyata hanya isapan jempol. Mereka malah diberangkatkan menggunakan visa kerja (amil) yang membuat mereka tak bisa masuk ke Arafah dan menyebabkan ibadah hajinya tidak sah.

‎”Katanya hotel bintang lima, ternyata tak ada bintang sama sekali. Uang DAM tidak jelas, uang real kami tidak dikembalikan, tiket pulang kami beli dan tanggung sendiri,” ungkap seorang jamaah lain dengan nada pilu.

‎Dalam pesan-pesan pribadi kepada wartawan, banyak jamaah menyebut Mustafa sebagai “pembohong se-dunia” dan “penipu berkopiah berpakaian megah”.

‎Sementara itu, di atas panggung DPRD, Mustafa tampil tenang dan meyakinkan. Ia menyebut semua persoalan sudah dijelaskan, menyalahkan regulasi Arab Saudi, dan menyatakan dirinya pulang demi menjaga reputasi.

‎”Saya tidak kabur. Saya pulang secara legal dan demi menjaga reputasi,” katanya datar.

‎Ia juga menyebut PT Novavil hanya mengantongi izin PPIU (Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah), dan urusan haji katanya ditangani oleh dua perusahaan lain miliknya yang berbasis di Jakarta dan berizin PIHK. Namun, para jamaah tak mudah percaya.

‎”Kalau memang begitu, kenapa uang kami ditransfer ke rekening Novavil? Semua brosur dan promosi atas nama Novavil,” ungkap jamaah lain.

‎Bukti Tak Terbantahkan

‎Para jamaah membawa fakta, bukan asumsi. Mulai dari rekening koran, bukti transfer ke rekening PT Novavil, rekaman suara hingga video janji-janji Mustafa yang menggaungkan keberangkatan haji penuh berkah. Jejak digital promosi haji lewat akun media sosial “MYasin Novavil”, serta unggahan para kepala cabang dan ustadz yang turut mempromosikan travel ini pun masih tersedia.

‎Lebih mengejutkan lagi, ada jamaah yang menyebut Mustafa meminjam uang mereka saat masih di Arab Saudi. Bahkan setelah pulang, mereka masih terus dihubungi lewat WhatsApp dimintai pinjaman hingga Rp25 juta, dengan janji akan dikembalikan di Gorontalo.

‎Apa yang dijanjikan sebagai “ibadah suci” berubah menjadi duka kolektif dan trauma spiritual. Dalam salah satu pesan WA, seorang jamaah menulis:

‎“Satu orang saja doakan dia tidak selamat dunia akhirat, sudah berat. Bagaimana kalau semua jamaah doakan dia begitu? Dunia akhirat kami tidak ikhlaskan uang kami ditipu.”

‎Mustafa Yasin memang sudah bicara di forum resmi. Tapi suara jeritan para jamaah tampaknya belum akan reda begitu saja. Jika hukum tak bergerak, mungkin doa mereka yang teraniaya akan menjadi jalan penegakan keadilan yang lebih nyata.

‎***