Rekam Fakta, Gorontalo – Menjelang perayaan ulang tahun ke-17, Partai GERINDRA di Gorontalo tengah menghadapi dilema politik. Partai yang pertama kali mengusung Gusnar Ismail sebagai gubernur kini mempertimbangkan langkah strategis: tetap mendukung atau beralih menjadi oposisi terhadap kepemimpinan Gusnar.
Situasi ini muncul setelah hasil Pilgub di Sulawesi menunjukkan GERINDRA hanya memenangkan tiga dari enam provinsi, yakni Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Selatan. Sementara itu, Partai Demokrat berhasil meraih kemenangan di Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, dan Gorontalo, tempat Gusnar Ismail terpilih sebagai gubernur.
Sekretaris DPD GERINDRA Gorontalo, Nasir Majid, mengungkapkan bahwa keputusan akhir berada di tangan DPP GERINDRA.
“Kami di daerah tentu ingin sejalan dengan Pak Gubernur Gusnar, tetapi keputusan ada di tingkat pusat. Sikap kami akan mengikuti arahan dari DPP,” ujar Nasir saat menghadiri persiapan perayaan ulang tahun GERINDRA yang dirayakan secara sederhana.
Sementara itu, Ketua DPD GERINDRA Gorontalo, Elnino Mohi, memberikan jawaban diplomatis terkait arah politik partainya di provinsi tersebut.
“Insyaallah Pak Gusnar akan menjalankan amanah dengan baik dan memberikan manfaat bagi masyarakat Gorontalo,” tulisnya dalam pesan singkat kepada awak media.
Meski belum ada keputusan resmi, beredar kabar bahwa GERINDRA sedang mempersiapkan kader terbaiknya untuk maju sebagai calon gubernur pada Pilgub Gorontalo 2029.
Keputusan akhir GERINDRA akan sangat bergantung pada arahan dari Ketua Umum Prabowo Subianto, Sekjen Ahmad Muzani, serta Ketua Harian Prof. Sufmi Dasco Ahmad. Selain itu, Abdul Karim Aljufri, selaku Koordinator Regional GERINDRA Indonesia Timur, juga diperkirakan memiliki pengaruh terhadap strategi politik partai di Gorontalo.
Dengan kondisi politik yang dinamis, publik menantikan sikap resmi GERINDRA: apakah tetap mendukung Gusnar atau mengambil peran sebagai oposisi di Gorontalo.
***




























