Berita  

Gobel Angkat Topi Untuk Prabowo, Tarif Trump Turun : “Ini Bukan Prestasi Biasa”

Foto Istimewa
banner 120x600

Rekam Fakta, Gorontalo — Anggota Komisi VI DPR RI, Rachmat Gobel, memberikan apresiasi atas keberhasilan Presiden Prabowo Subianto bersama tim ekonomi Indonesia, khususnya Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, yang sukses menurunkan tarif ekspor Indonesia ke Amerika Serikat dari 32% menjadi 19%.

“Ini keberhasilan luar biasa. Kita patut mengapresiasi kerja keras Presiden dan tim. Tinggal bagaimana kita memanfaatkannya untuk mendongkrak ekspor, terutama produk-produk UMKM kita,” ujar Gobel pada Minggu, 20 Juli 2025.

Pengumuman tersebut disampaikan langsung oleh Presiden AS Donald Trump melalui akun Truth Social-nya pada 16 Juli 2025. Penurunan tarif ini menjadikan produk ekspor Indonesia paling kompetitif di kawasan ASEAN dan bahkan lebih rendah dari Jepang, Korea Selatan, hingga China.

Namun, keberhasilan ini bukan tanpa konsekuensi. Sebagai bagian dari kesepakatan, Indonesia sepakat membeli produk energi dan pertanian dari AS serta 50 pesawat Boeing dengan total transaksi senilai USD 34 miliar atau sekitar Rp 550 triliun.

“Walau ekspor ke AS bukan yang terbesar, tapi kontribusi surplusnya bagi neraca perdagangan Indonesia sangat signifikan. Surplus perdagangan Indonesia dengan AS pada 2024 mencapai USD 17,9 miliar, lebih dari separuh total surplus nasional,” ungkap Gobel.

Di sisi lain, sebagai konsekuensi diplomasi ini, Indonesia menetapkan tarif 0% untuk semua produk asal AS yang masuk ke pasar dalam negeri. Produk-produk seperti kedelai, gandum, bensin, LPG, hingga mesin-mesin industri kini bebas bea masuk.

Gobel melihat ini sebagai peluang strategis sekaligus tantangan besar. Ia mendorong agar pemerintah segera bekerja cepat:

“Menteri-menteri jangan diam. Gunakan momentum ini untuk genjot ekspor. Perlu ada insentif untuk produk-produk seperti furnitur, garmen, tekstil, alas kaki, serta hasil pertanian dan perkebunan.”

Ia juga mengusulkan agar Presiden membentuk task force lintas sektoral langsung di bawah koordinasi Presiden untuk mendorong investasi dan industri ekspor.

“Ini saatnya tarik relokasi industri dari negara-negara yang tarifnya tinggi seperti China, Jepang, dan Thailand. Jadikan Indonesia sebagai basis produksi untuk pasar global.”

Namun, Gobel juga mengingatkan potensi risiko dari kesepakatan ini, terutama masuknya produk-produk luar yang bisa membanjiri pasar domestik akibat tarif 0%. Ia menyoroti pentingnya pengawasan terhadap TKDN, penyelundupan, serta praktik transhipment dan dumping.

“Jangan sampai produk luar diberi nama Indonesia hanya demi lolos tarif. Pasar domestik kita harus dijaga karena ini juga daya tarik utama bagi investor,” ujarnya tegas.

Gobel juga mendesak agar penurunan tarif impor dari AS memberi dampak nyata pada masyarakat.

“Kalau kedelai, gandum, dan bensin sudah bebas tarif, ya harga-harga produk turunan seperti mi, roti, tepung, hingga tiket pesawat harus turun juga. Jangan rakyat cuma disuruh mengalah tapi tidak merasakan manfaatnya.”

Menutup pernyataannya, Gobel menyebut ada tujuh pekerjaan rumah yang harus dituntaskan agar hasil diplomasi ini benar-benar membawa manfaat optimal bagi Indonesia, mulai dari reformasi birokrasi, pemberantasan pungli, efisiensi industri, hingga strategi ekspor dan proteksi pasar domestik.

***