Rekam Fakta, Gorontalo – Aroma busuk dugaan penipuan berkedok perjalanan haji menyeruak tajam di Gorontalo. Sejumlah jamaah gagal haji, yang terkatung-katung di Jeddah, kini bersuara lantang menuntut keadilan. Merekaa menyeret nama Mustafa Yasin, anggota DPRD Gorontalo dari Fraksi PKS sekaligus Direktur Utama PT Novavil Mutiara Utama serta istrinya, Nova Lahay, sebagai owner ataupun Komisaris Utama di travel tersebut. Mereka diduga kuat sebagai aktor utama bisnis gelap travel tanpa izin resmi Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK).
Kasus ini dilaporkan langsung ke Polda Gorontalo oleh para jamaah yang dikawal LSM Jaringan Kemandirian Nasional (Jaman) dan LSM Lingkar Pemuda Gorontalo (LPGo). Mereka menuntut penyidik seriusi persoaalan ini dan segera menetapkan Mustafa serta istrinya sebagai tersangka.
“Kalau polisi serius, tidak sulit menemukan bukti. Semua transfer uang ada, korban ada, video rekaman ada, modusnya sangat jelas. Kami juga minta Mustafa dan Istrinya selaku pengelola travel segera ditahan ” tegas Ketua LSM Jaman, Frankymax Kadir, kepada wartawan.
Modus yang digunakan PT Novavil sangat mencolok. Jamaah diberangkatkan menggunakan visa kunjungan bahkan visa tenaga kerja, alih-alih visa haji resmi. Akibatnya, para calon haji ini harus berperan sebagai TKI gadungan demi menghindari razia otoritas Saudi. Mereka dipaksa tinggal berhari-hari di penginapan, tiket pesawat hangus, bahkan terpaksa menyamar agar tidak diciduk petugas.
“Bayangkan, jamaah yang seharusnya dimuliakan justru diperlakukan seperti buruh migran ilegal. Di Bandara Changi Singapura mereka sampai makan mi instan dan tidur di lantai dingin. Ini penghinaan terhadap umat,” ujar Frankymax.
Sorotan tajam tak hanya mengarah ke penegak hukum, tapi juga ke Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang menaungi Mustafa.
Ketua LSM LPGo, Reflin Liputo, mendesak Badan Kehormatan DPRD Gorontalo segera memutuskan sidang etik, dan PKS mengambil langkah tegas dengan memecat Mustafa.
“PKS selalu menjual jargon moral dan integritas. Tapi kadernya justru diduga menipu umat dengan dalih ibadah. Ini pengkhianatan politik dan agama sekaligus,” kata Reflin.
Ia bahkan mengirim pesan terbuka untuk Presiden PKS yang baru. Pernyataannya jelas: bila PKS serius berbenah dan menjaga kondusivitas, maka Mustafa adalah ujian nyata. “Kalau PKS masih melindungi, berarti omong kosong semua janji perbaikan itu,” ujarnya.
Data yang dibawa jamaah menunjukkan nilai kerugian yang mencengangkan. Lima Dari sembilan jamaah yang melapor, total dana yang raib mencapai miliaran rupiah.
Muhamad Amin (Bitung) bersama anak dan istrinya kehilangan Rp855 juta. Uang yang dikumpulkan lima tahun dari hasil berjualan bakso hilang begitu saja.
Jezzy Halada (Kotamobagu), seorang muallaf, kehilangan Rp586 juta. Dengan air mata, ia mengaku harus meminjam uang dari keluarganya yang non-Muslim demi membayar tambahan Rp33 juta per orang agar bisa wukuf di Arafah. Namun, usahanya sia-sia.
Rukmini Lababu (Bolmong Timur) kehilangan Rp264 juta. Niat sucinya berhaji pupus hanya untuk menangis di penginapan Jeddah.
Sofyan Mantulangi dan istri (Halmahera Timur) merugi Rp488 juta, padahal sudah setor uang muka sejak 2023.
Selain setoran awal, jamaah juga dipalak biaya tambahan untuk penginapan, tiket pulang, bahkan baju ihram yang mereka bawa dipaksa tinggal di jakarta.
Bagi para korban, ini bukan sekadar kerugian materi, tapi penghinaan terhadap keyakinan. Mereka menuntut Polda Gorontalo segera menahan Mustafa Yasin dan Nova Lahay.
“Jangan sampai masyarakat curiga ada permainan hukum hanya karena pelaku adalah anggota DPRD dan kader partai besar,” Tandas Jamaah.
Baca Berita Terkait :




























