Rekam Fakta, Gorontalo – Ramainnya perbincangan publik mengenai petahana Rektor Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Eduart Wolok diduga membangun dinasti kekuasaan keluarga di lingkungan kampus.
Terbukti dengan pengangkatan tiga orang keluarga Eduard Wolok yang menjabat sebagai pimpinan kampus Universitas Negeri Gorontalo. Ketiganya sudah dilantik oleh Eduart Wolok. Bertempat di Hotel Dahmil Gorontalo, Kamis (28/12/ 2023).
Adapun nama-nama ketiga keluarga Eduard Wolok diantaranya Ceci Karim saat ini diangkat sebagai Dekan Fakultas Kedokteran, Kakaknya Tineke Wolok diangkat sebagai Kepala Badan Pengelola Usaha, Wenny Dungga sebagai Dekan Fakultas Hukum.
Jika tanpa proses pemilihan sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Riset Tekhnologi dan Pendidikan Tinggi Nomor 82 Tahun 2017 Tentang Statuta Universitas Negeri Gorontalo. Beredar informasi dinilai cacat hukum karena tidak dilakukan melalui proses pemilihan sebagaimana diatur.
Dilansir dari Kontras.id, Koordinator Gorontalo Corruption Watch (GCW), Deswerd Zougira menilai soal Rektor Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Eduart Wolok diduga membangun dinasti keluarga di kampus.
“Selain itu, Eduart juga mengangkat kakak iparnya, Wenny Dungga sebagai Dekan Fakultas Hukum. Padahal proses pemilihannya cacat hukum. Disebut cacat hukum karena proses pemilihan hanya diikuti sendiri oleh Wenny,” ujar Deswerd.
Lanjut Deswar mengatakan, Calon lain terpaksa mengurungkan niat ikut pemilihan Dekan Fakultas Hukum karena sudah beredar kabar bahwa Wenny Dungga yang nantinya akan ditunjuk sebagai dekan.
“Memang sempat ada penunjukan calon pendamping dari pimpinan fakultas sebagai syarat agar pemilihan sah, tetapi tidak ada yang bersedia. Sesuai Statuta diatas, pemilihan calon dekan minimal harus diikuti lebih dari dua calon,” sebutnya.
Tak hanya itu, Deswerd menyebut Eduart juga mengangkat kakaknya, Tineke Wolok sebagai Kepala Badan Pengelola Usaha UNG. Deswerd menyebut Tineke, merupakan dosen tetap pada Fakultas Ekonomi dan juga istri Wenny Dungga.
“Padahal, jabatan Pengelola Usaha ini biasanya diisi pegawai administrasi bukan dosen,” terangnya.
Deswerd menjelaskan, pengangkatan keluaraga terkait jabatan di kampus yang dilakukan oleh Eduart Wolok merupakan bentuk nepotisme.
“Nepotisme terjadi karena rendahnya sistem kontrol di kampus dan orang-orang penjaga nilai di sana sudah pada diam. Sudah tidak ada lagi yang peduli,” katanya.
Deswerd mengungkapkan akan berjanji menyurati Menteri Pendidikan dana Kebudayaan Riset dan Teknologi (Mendikbud Ristek), Nadiem Makarim untuk melakukan evaluasi.
“Ini tidak boleh dibiarkan, harus disampaikan ke pak menteri (Mendikbud Ristek Nadiem Makarim),” jelasnya.




























