Berita  

Seabad RSUD Aloei Saboe: Buku Sejarah dan Museum Resmi Diluncurkan, Warisan Pengabdian untuk Generasi Penerus

banner 120x600

Rekam Fakta, Gorontalo – Peringatan satu abad RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe menjadi momentum bersejarah dengan diluncurkannya buku “Menjadi Lebih Baik untuk Semua: 100 Tahun Rumah Sakit Umum Kota Gorontalo Prof. dr. H. Aloei Saboe” serta peresmian Museum Aloei Saboe, Jumat (22/5/2026).

Peluncuran buku tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan 100 tahun rumah sakit yang mendokumentasikan perjalanan panjang pelayanan kesehatan di Gorontalo, mulai dari masa awal berdiri hingga berkembang menjadi rumah sakit rujukan utama di Provinsi Gorontalo.

Direktur RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe, Abdulhafidz Daud, mengatakan peringatan usia satu abad harus meninggalkan jejak sejarah yang dapat diwariskan kepada generasi mendatang.

“Di ulang tahun yang ke-100 rumah sakit Aloei Saboe ini, kami memang mengharapkan ada kegiatan-kegiatan yang betul-betul menandai 100 tahun daripada rumah sakit Aloei Saboe,” ujarnya.

Menurut Abdulhafidz, buku tersebut tidak hanya merekam sejarah kelembagaan rumah sakit, tetapi juga mengangkat perjalanan pengabdian Prof. Dr. dr. H. Aloei Saboe yang mulai bertugas di Gorontalo sejak tahun 1941.

Ia menilai kisah perjuangan para tenaga kesehatan di masa lalu menjadi pelajaran berharga bagi generasi saat ini.

“Kita bisa belajar dari bagaimana perjuangan dokter Aloei Saboe pada masa itu. Segala keterbatasan sebetulnya bukan menjadi hambatan untuk berkarya,” katanya.

Sebagai upaya memperluas akses masyarakat terhadap sejarah tersebut, buku akan ditempatkan di perpustakaan dan lembaga kearsipan, serta tersedia dalam versi digital.

Tidak hanya meluncurkan buku, RSUD Aloei Saboe juga meresmikan Museum Aloei Saboe yang menyimpan berbagai dokumen, foto, hingga jejak pengabdian para tenaga kesehatan yang pernah berkontribusi membangun layanan kesehatan di Gorontalo.

Sebagai bentuk penghormatan, manajemen rumah sakit turut menata kembali nama sejumlah ruangan dan gedung dengan menggunakan nama dokter, bidan, perawat, apoteker, serta tenaga administrasi yang berjasa pada masa awal perkembangan rumah sakit.

Sementara itu, Ketua IDI Wilayah Gorontalo, Isman Yusuf, menjelaskan bahwa buku tersebut tidak hanya mengulas sejarah RSUD Aloei Saboe sebagai rumah sakit pertama di Gorontalo yang berdiri pada 1926, tetapi juga merekam perkembangan pelayanan kesehatan di daerah tersebut.

Menurutnya, isi buku dibagi ke dalam tiga bagian utama, yakni sejarah rumah sakit, capaian dan prestasi selama 100 tahun, serta perjalanan hidup Prof. Dr. H. Aloei Saboe sebagai tokoh yang namanya diabadikan menjadi nama rumah sakit.

“Tujuannya untuk menjadi motivasi dan semangat bagi para tenaga kesehatan dan dokter, sehingga nilai-nilai dokter Aloei Saboe, dokter Lim, dan dokter Dunda tetap hidup di rumah sakit Aloei Saboe maupun di masyarakat pada umumnya,” ujar Isman.

Dalam kegiatan bertajuk “Obrolan Buku”, turut dipaparkan kisah tiga dokter pelopor pelayanan kesehatan di Gorontalo yang dikenal sebagai “Tiga Serangkai”, yakni Prof. Dr. dr. H. Aloei Saboe, dr. Lim Tang Hong, dan dr. M.M. Dunda.

Prof. Aloei Saboe dikenal atas dedikasinya dalam pemberantasan penyakit menular dan penanganan lepra. Sementara dr. Lim Tang Hong berperan besar dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak, sedangkan dr. M.M. Dunda dikenang karena keberhasilannya memberantas wabah penyakit kulit menular atau Ambalo di Gorontalo.

Berdasarkan penelusuran arsip nasional yang dipaparkan dalam forum tersebut, cikal bakal rumah sakit mulai dibangun pada 1926 oleh pemerintah Hindia Belanda dalam bentuk poliklinik sederhana beratapkan daun rumbia. Rumah sakit kemudian resmi beroperasi pada 1929 dengan dokter pemerintah pertama, dr. Andreas Umanau.

Nama Prof. Dr. H. Aloei Saboe resmi digunakan sebagai nama rumah sakit melalui Keputusan Wali Kota Gorontalo pada 2 September 1987 dan mulai diresmikan penggunaannya pada 2 September 1988 sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan pengabdiannya bagi masyarakat Gorontalo.