Rekamfakta.com, Kabupaten Boalemo – Pernyataan Ali Djabir soal Pemerintahan Boalemo di bawah kepemimpinan Plt Bupati Boalemo, hanya jalan di tempat. Kedua kalinya kembali ditanggapi Juru Bicara Khusus (Jubirsus) Plt Bupati Boalemo Helmi Rasid.
Helmi menjelaskan melalaui press release yang dikirimkan ke media ini, bahwa banyak faktor yang menjadi tolak ukur untuk menjawab pernyataan dari Ali Djabir. Pertama, dari sisi angka kemiskinan. Bicara soal kemiskinan dari data Badan Pusat Statistik (BPS), angka kemiskinan Kabupaten Bolaemo di tahun 2020, mengalami penurunan. Begitu juga dengan, Indeks Pembangunan Manusia (IPM), yang mengalami peningkatan.
Kedua, dari sisi pengelolaan keuangan, Pemda Bolaemo memperoleh WTP 4 kali berturut-turut. Hal ini, menandakan Plt Bupati Boalemo Anas Jusuf, terus berbenah dan membangun untuk kepentingan masyarakat kecil menengah. Bukan justru, untuk kepentingan seseorang ataupun kepentingan golongan.
Ketiga, penilaian Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah di tahun 2020 memperoleh predikat B, yang tahun sebelumnya C. Dan ini membuktikan Plt Bupati Bolaemo dibawah kepemiminan Anas Jusuf tetap bekerja maksimal untuk kepentingan rakyat di Kabupaten Boalemo.
Kemudian soal program DAMAI yang dinilai tidak ada progres, Helmi menegaskan masa pandemi Covid-19 saat ini, Pemerintah Kabupaten Boalemo merecofusing anggaran untuk penanganan Covid-19 kurang lebih 46 milyar. Sehingga ada beberapa program yang tidak bisa maksimalkan. Dan tentunya, bukan hanya Boalemo saja yang mengalami kondisi ini. Bahkan, daerah di seluruh Indonesia mengalami kendala menjalankan program.
“Jadi jika Ali Djabir mengatakan, Pemerintahan Boalemo yang di pimpin Pak Plt Bupati Boalemo hanya jalan di tempat, tolak ukurnya dari mana? Jangan mengukur prestasi pemerintahan hanya di ukur dari diri sendiri,” tegas Helmi.
Dengan begitu Helmi, meminta kepada Ali Djabir untuk memperbanyak diskusi ataupun tabayun sebelum mengeluarkan pernyataan. Dengan harapan, Ali Djabir tidak sesat dalam cara berfikir dan menganalisa.
“Akibat dari pernyataan yang asal ngomong, hanya mempermalukan diri sendiri. Jangan sampai akan seperti pepatah, Tong kosong berbunyi nyaring. Artinya, pernyataan yang dikeluarkan tidak sangat berbobot,” bebernya.
Menurut Helmi, soal permintaan Ali Djabir kepada Gubernur Gorontalo untuk menyiapkan Penjabat Bupati Boalemo, juga sangat lucu. Hal itu bukti ketidak tahuan Ali Djabir, soal sistim birokrasi dan hanya asal ngomong saja.
“Memberi saran kepada Gubernur untuk menyiapkan penjbat Boalemo, yang di pilih dari dua nama yang di inginkan Ali Djabir. Namun saran yang di sampaikan salah. Ini bukti bahwa tong kosong berbunyi nyaring. Sebelum mengeluarkan pernyataan, baca dulu Peraturan dalam negeri, barulah memberikan saran. Agar tidak terkesan memberikan saran yang sesat,” tegasnya lagi.
Gubernur Gorontalo kata Helmi sosok pemimpin yang cerdas dan tau tata kelola pemerintahan. Sehingga tidak perlu di ajari, apalagi saran yang diberikan tidak berbobot. Sebab, jika sudah waktunya pemerintahan Plt Bupati Boalemo akan berakhir, maka sistim dan mekanisme akan berjalan sendiri tanpa diintervensi.
“Saya minta kepada Ali Djabir untuk tidak menggurui Gubernur Gorontalo, karena Gubernur kita ini orang cerdas bukan seperti anda (Ali Djabir_red). Apalagi memberikan saran sampai menyebut nama calon penjabat yang diinginkan secara pribadi,” tutup mantan Aktivis HMI itu.
Rls/Neff























