Terkait Banjir Di Kota Gorontalo, Ridwan Monoarfa : “Tidak Ada Pilihan Lain Selain Relokasi”

Sdssd
Kakak Ridwan Monoarfa Bersama Kakak Sherly Djou Saat Menyerahkan Bantuan Kepada Warga Korban Banjir Yang Mengungsi Di Kesdim Kota Gorontalo
banner 120x600

Rekamfakta.com, Kota Gorontalo – Musibah banjir di Kota Gorontalo seakan tak akan pernah ada habisnya, tak bisa di bayangkan betapa lelahnya warga Kelurahan Bugis, Ipilo, Talumolo, Puncur dan terutama warga yang tinggal di bantaran sungai yang harus berulang kali mengevakuasi barang-barang mereka agar terhindar dari banjir, berulang kali membersihkan endapan lumpur dari rumah mereka dan berulang kali juga mereka harus bolak-balik dan tinggal di tempat pengungsian bersama anak-anak kecil mereka.

Ketua OKK Ridwan Monoarfa saat dijumpai semalam ketika menyalurkan bantuan dari Rachmat Gobel di Belle Li Mbui bersama Kakak Sherly Djou dan Kakak Lolla Yunus mengatakan bahwa Soal banjir ini, Ada banyak hal terutama yang harus dipikirkan, yaitu membatasi areal pembukaan lahan di hulu khususnya didaerah Suwawa, itu harus di jaga, kalau tidak airnya langsung turun ke kota, musim hujan seperti ini memang cuacanya ekstrim sekali, curah hujan sangat intens, sehingga berulang-ulang banjir.

Bfe8d3dc 8fbb 4f10 A4f8 Aa70412c202b
Kakak Ridwan Monoarfa Bersama Kakak Lolla Yunus Dan Kakak Sherly Djou Saat Berada Di Lokasi Pengungsian Di Belle Li Mbui

“Memang wilayah kampung Bugis, Talumolo, puncur dan sekitarnya itu kayak tempayan, rendah sekali, sungai itu kalau kita lihat dengan menggunakan satelit, sungai itu lebih tinggi daripada pemukiman warga, oleh karena itu salah satu caranya memperbaiki tanggul yang jebol dan membangun tanggul yang baru yang belum ada,” ujar Ridwan.

Tapi menurut Ridwan, karena wilayah itu tempat genangan air karena lebih rendah, mestinya pemukiman warga di wilayah itu di relokasi saja, bisa di hitung berapa dampak kerugian warga jika ada banjir yang berulang kali, bahkan banjir ini sudah dari zaman penjajahan Abad 18.

“Memang wliayah kampung bugis dan sekitarnya itu daerah banjir, Kita bisa lihat buktinya dengan melihat rumah dulu-dulu itu kebanyakan rumah tinggi semua, itu menunjukkan bahwa daerah itu memang daerah air dan sekarang sudah dijadikan tempat pemukiman warga, jadi ada yang keliru di dalam tata ruang kita, kita membiarkan penduduk tinggal di daerah air, daerah banjir, ini yang harus di koreksi menurut saya,” tegasnya lagi.

“Jika kita serius menangani banjir ini agar tidak terjadi lagi kerugian dan derita masyarakat, maka tidak ada pilihan lain selain relokasi, cari tempat yang bagus dan lebih tinggi, di desain yang bagus tempatnya, yakinkan masyarakat bahwa inilah yang terbaik, tapi hal ini memang perlu waktu dan biaya serta perencanaan yang matang, saya pikir itu satu-satunya jalan, segera kita mulai rintis tahapannya, sebab percuma juga tanggul akan di bangun terus menerus namun banjir tetap saja terjadi,” pungkas Ridwan.

Ridwan menambahkan, kemarin Walikota Gorontalo Marten Taha sudah sowan ke Rumah Wakil Ketua DPR-RI Rachmat Gobel dan membicarakan masalah banjir ini, mudah-mudahan dalam waktu yang tidak telalu lama akan segera terealisasi solusinya.

“Perlu sosialisasi dan bimbingan terus menerus sambil pemerintah menyiapkan jangka panjang relokasi, itu pilihan terbaik menurut saya, mereka mengalami penderitaan dalam musibah, mereka masih mengingat Sang Khalik, itulah manusia yang sejati, mudah-mudahan cobaan ini mereka bisa terima dengan kelapangan dada dan kita berdoa agar mereka bisa tetap sehat, Saya harap pengungsi ini disediakan Posko Kesehatan juga, apalagi ada anak-anak yang sedang sakit dan kita juga sedang upayakan itu,” tutup Ridwan Monoarfa. (0N4L/RF)