spot_img
4.6 C
New York
Kamis, Agustus 11, 2022
BerandaDaerahProvinsi GorontaloAda Keterangan Palsu Pada Perkara Percobaan Pembunuhan Wartawan Di Gorontalo

Ada Keterangan Palsu Pada Perkara Percobaan Pembunuhan Wartawan Di Gorontalo

Rekamfakta.com, Kota Gorontalo Jaksa Penuntut Umum (JPU) kembali hadirkan dua orang saksi terkait perkara rencana pembunuhan wartawan di Gorontalo. Saksi yang dihadirkan ialah Aril Latif alias Ocong dan Ismail Muhammad alias Arif, Rabu (31/03/202).

seperti diketahui, kedua saksi yang dihadirkan ini merupakan eksekutor yang melakukan pembacokan terhadap korban Jefrfry As. Rumampuk. Pada sidang diakui, pelaku diperintah oleh terdakwa Edhy Prasetyo Nurkamiden untuk menghabisi nyawa korban.

dikarenakan perbuatan tersebut, Majelis Hakim pada Pengadilan Negeri (PN) Gorontalo memvonis kedua pelaku dengan masing-masing hukuman dengan 3 dan 5 tahun penjara.

Saat Keduanya dihadirkan kembali di PN Gorontalo sebagai saksi pada perkara Edhy P. Nurkamiden, mereka memberikan keterangan yang tidak sama serta membantah jika rencana pembunuhan tersebut bukanlah perintah terdakwa Ehdy Nurkamiden.

Bahkan, dalam keteranganya saksi Aril Latif alias Ocong membeberkan kepada Majelis Hakim, bahwa orang yang menunjukan rumah korban pada saat itu adalah Epin Rahman.

“Yang saya tau yang ba kase tunjung rumah (Jerffry_red) si Epin.” Kata Ocong kepada Majelis Hakim dan JPU.

Tidak hanya menjelaskan siapa yang menunjukan rumah korban, akan tetapi kedua saksi mengatakan sewaktu mereka berada di tahanan Polres Gorontalo Kota mendapat perlakuan yang tak sepantasnya. Kedua saksi mengaku dipukul hingga babak belur oleh sejumlah oknum buser, bahkan keduanya mengaku dipaksa untuk memberi tahu siapa yang menyuruh mereka melakukan rencana pembunuhan.

“Torang buser pukul-pukul terus supaya mo mangaku, karena saya tako dorang (Polisi_red) mo press jadi saya so tanda tangan kasana. Yang basuruh itu pak Hendra deng pak Bodri.” Ungkapnya.

Bahkan kata Ocong penyidik Polres Gorontalo Kota saat itu menyuruh dan memaksa mereka menandatangani berkas P21 di dalam sel, bukan di ruang penyidikan.

Mendengar keterangan kedua saksi, kemudian Majelis Hakim meminta agar para saksi ini memberikan keterangan yang sebenar-benarnya saat berada di ruang sidang.

“Saudara saksi posisi sekarang saudara memberikan keterangan ini sebagai saksi, ketika keterangan saudara ini sebagai saksi ada pihak-pihak yang keberatan bahwa saudara memberikan keterangan pada saat ini sebagai saksi adalah keterangan palsu. Dengan membandingkan keterangan keterangan saudara, ” Kecam Hakim.

”Di perkara saudara sebagai terdakwa yang sudah menjadi fakta hukum, saudara bisa dijerat dengan ancaman pemberian keterangan palsu di persidangan 7 tahun penjara.” Tegas Majelis Hakim.

secara tegas, Majelis menekankan bahwa dengan mendengarkan keterangan saksi, JPU dibolehkan untuk memerintah penyidik untuk melakukan penyidikan baru terhadap seluruh kesaksian kedua saksi tersebut.

“Penuntut Umum bisa langsung kemudian memerintahkan kepada penyidik untuk melakukan penyidikan baru terhadap keterangan saksi saudara saat ini.” Jelas Majelis Hakim.

Diketahui bahwa persidangan nanti akan dilanjutkan pada hari Selasa mendatang masih dengan agenda mendengarkan keterangan saksi.

Rachmad/RF

***Jaringan Forwaka Gorontalo***

Baca Juga

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Pasang Iklan Disini

OTHER STORIES

KOMENTAR TERBARU

error: Content is protected !!