Rekam Fakta, Kota Gorontalo – Festival Apangi di Kelurahan Dembe 1 kembali menjadi simbol kuat pelestarian budaya dan kebersamaan masyarakat. Memasuki penyelenggaraan tahun ke-11, tradisi yang digelar setiap 10 Muharram ini tidak hanya mempertahankan warisan kuliner khas Gorontalo, tetapi juga memperlihatkan semangat gotong royong yang terus hidup dari generasi ke generasi.
Festival ini berawal dari tradisi masyarakat Dembe 1 dalam menyambut dan menghormati penanggalan Hijriah. Berbeda dengan peringatan tahun baru Masehi, masyarakat menjadikan 10 Muharram sebagai momentum istimewa dengan membuat dan menyajikan kue Apangi, kuliner tradisional yang telah menjadi identitas wilayah tersebut.
Seiring waktu, Apangi terus mengalami inovasi. Jika dahulu hanya dikenal dengan warna putih, kini masyarakat menghadirkannya dalam beragam warna yang menarik tanpa menghilangkan cita rasa khasnya. Inovasi tersebut menjadi salah satu daya tarik yang membedakan Apangi Dembe 1 dari kue tradisional serupa di daerah lain.
Di balik kemeriahan festival, terdapat perjalanan panjang yang penuh ketangguhan. Tradisi ini tetap berlangsung di tengah pandemi COVID-19 dengan menyesuaikan protokol kesehatan. Bahkan ketika banjir melanda Dembe 1 pada tahun 2022, masyarakat tidak menghentikan pelaksanaan festival. Para pemuda secara sukarela mengantarkan kue Apangi ke rumah-rumah warga yang terdampak banjir sehingga semangat berbagi tetap terjaga.
Keistimewaan Festival Apangi juga terlihat dari cara penyelenggaraannya. Seluruh kegiatan berlangsung atas dasar swadaya masyarakat tanpa kepanitiaan resmi. Kaum ibu bertanggung jawab menyiapkan bahan dan mengolah ribuan kue Apangi, sementara ketua RT dan RW mengoordinasikan informasi kepada warga serta para tamu. Di sisi lain, para pemuda mengambil peran dalam pengaturan lalu lintas, pengamanan, dan kelancaran pelaksanaan festival.
Dalam beberapa tahun terakhir, Pemerintah Kota Gorontalo turut memberikan dukungan sebagai bentuk apresiasi terhadap tradisi yang terus dijaga masyarakat. Salah satunya melalui penyelenggaraan pasar murah menjelang festival untuk membantu warga memperoleh kebutuhan pokok pembuatan Apangi dengan harga terjangkau.
Festival ini juga dikenal dengan filosofi “Monga, Moduhengo, Boli Modelo”, yang berarti bisa makan di tempat, bisa menambah, dan bisa membawa pulang. Filosofi tersebut mencerminkan keramahan masyarakat Dembe 1 yang membuka pintu bagi siapa saja untuk menikmati Apangi secara gratis, tanpa membedakan asal daerah maupun latar belakang.
Melalui semangat kebersamaan dan pelestarian budaya, Festival Apangi tidak hanya menjadi agenda tahunan masyarakat Dembe 1, tetapi juga semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu ikon wisata budaya Kota Gorontalo yang mampu memperkenalkan kearifan lokal kepada masyarakat luas.
























