Rekam Fakta, Gorontalo – Ketua LSM Jaringan Kemandirian Nasional (JAMAN) Provinsi Gorontalo, Frangkymax Kadir, angkat bicara terkait polemik pelayanan Puskesmas Sipatana yang memanas setelah viralnya video seorang pasien dalam kondisi sesak napas di dalam mobil sambil menunggu ambulans. Menurut Frangky, opini publik yang berkembang saat ini cenderung terbentuk hanya dari potongan video tanpa melihat fakta lengkap yang terjadi di lapangan.
“Publik jangan buru-buru menghakimi”
Menurut Frangky, kasus ini tidak bisa dinilai dari satu sudut pandang. Ia menegaskan bahwa video tersebut memang menggugah emosi, namun tidak boleh dijadikan dasar untuk menyimpulkan adanya penolakan pelayanan.
“Potongan video adalah momen. Tapi pelayanan kesehatan adalah proses. Publik jangan langsung menghakimi tanpa melihat alur kejadian dan prosedur yang seharusnya dijalankan,” ujarnya.
Ia mengatakan, JAMAN mengikuti dengan saksama kronologi dari pihak keluarga, termasuk pernyataan Baby yang merupakan staf Puskesmas sekaligus keluarga pasien, serta klarifikasi resmi dari Kepala Puskesmas Sipatana, Rita Bambang.
Prosedur awal tidak dijalankan pihak keluarga
Dalam analisis JAMAN, kesalahan prosedur justru muncul dari tahap paling awal, yakni dari pihak keluarga terutama dari Baby yang merupakan tenaga kesehatan.
Sebagai bidan yang memahami SOP emergensi, Baby seharusnya:
Melakukan tindakan awal sesuai kompetensi, segera membawa pasien ke UGD Puskesmas, bukan menunggu ambulans datang ke rumah, mengutamakan UGD sebagai titik pelayanan pertama, karena fasilitas emergensi dan dokter tersedia lengkap di sana.
Frangky menyebut bahwa langkah awal ini sangat menentukan.
“Jika kondisi disebut gawat, UGD adalah tempatnya. Bukan menunggu ambulans. Yang bersangkutan adalah tenaga kesehatan yang tahu alur, sehingga kesalahan prosedur ini tidak boleh ditutup-tutupi lalu menyalahkan pihak lain,” jelasnya.
Ambulans tidak ditolak, driver terbatas, pelayanan tetap jalan
Frangky menjelaskan bahwa pada waktu kejadian, Puskesmas Sipatana berada dalam rangkaian Hari Kesehatan Nasional, dan sopir ambulans termasuk staf yang dijadwalkan mengikuti pertandingan voli.
Namun, ini bukan berarti pelayanan dihentikan.
“Tenaga medis tetap ada di UGD. Pelayanan tetap buka. Yang terjadi adalah driver sedang tidak berada di tempat, sehingga terjadi keterlambatan. Ini keterbatasan teknis, bukan penolakan pelayanan,” tegasnya.
Fakta medis: pasien meninggal di RS Aloei Saboe
Frangky turut meluruskan informasi yang terlanjur berkembang luas di media sosial. Ia menegaskan bahwa pasien tidak meninggal di dalam mobil sebagaimana diasumsikan warganet.
“Faktanya, pasien meninggal di RS Aloei Saboe setelah mendapatkan penanganan lanjutan oleh dokter di sana. Pasien sempat mendapatkan perawatan sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia. Jadi bukan meninggal di mobil, bukan ketika menunggu ambulans,” katanya.
Ia menilai klarifikasi ini penting agar publik tidak menelan mentah-mentah narasi viral yang berpotensi merugikan tenaga kesehatan.
“Jangan jadikan tenaga kesehatan sebagai kambing hitam”
Menurut Frangky, peristiwa ini menunjukkan bagaimana tenaga kesehatan bisa dengan mudah disudutkan oleh opini publik tanpa analisis fakta yang komprehensif.
“Jangan sampai ada kambing hitam. Tenaga kesehatan adalah garda terdepan, dan mereka bisa disudutkan hanya karena persoalan yang berawal dari miskomunikasi dan ketidaktepatan prosedur di pihak keluarga,” tegasnya.
Minta Dinas Kesehatan mengkaji prosedur secara jernih
JAMAN mendorong Dinas Kesehatan Kota Gorontalo untuk melakukan evaluasi menyeluruh, bukan berdasarkan tekanan publik, tetapi berdasarkan SOP dan fakta objektif.
Evaluasi itu perlu melihat dua aspek:
1. Apakah tenaga kesehatan (Baby) telah menjalankan SOP penanganan awal?
2. Apakah narasi yang disebarkan keluarga ke publik bersifat tidak proporsional dan menimbulkan kesalahpahaman?
“Ini harus dikaji secara profesional, bukan mengikuti emosi masyarakat. Kebenaran tidak boleh mengikuti viral,” tambahnya.
Mengajak publik melihat secara proporsional
Di akhir pernyataannya, Frangky mengajak masyarakat untuk memahami kasus ini dengan jujur dan rasional.
“Kasus ini harus dilihat dengan kepala dingin. Jangan langsung menyalahkan Puskesmas tanpa memahami seluruh rangkaian kejadian. Kita harus adil kepada tenaga medis yang sudah bekerja melayani masyarakat setiap hari,” tutupnya.
***
Frangkymax Kaji Kasus Sipatana, Ingatkan Publik: “Jangan Sampai Ada Kambing Hitam”

Baca Juga
Rekomendasi untuk kamu

Rekam Fakta, Jakarta — Menteri Tenaga Kerja, Yassierli menghadiri apel besar 17-an yang digelar Panasonic…

Rekam Fakta, Gorontalo — Aldi Andalan Uloli optimistis Gorontalo memiliki peluang besar untuk berkembang apabila…

Rekam Fakta, Gorontalo — Tokoh muda Popayato Barat, Fadel Hamzah, kembali menyoroti dugaan aktivitas Pertambangan…

Rekam Fakta, Gorontalo — Pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) IV Partai Hanura Provinsi Gorontalo dipastikan berjalan…










