spot_img
4.6 C
New York
Senin, Agustus 15, 2022
BerandaOpiniGeologi Dan Tata Ruang Wilayah Gorontalo

Geologi Dan Tata Ruang Wilayah Gorontalo

Penulis : Noviar Akase, ST., MT (Dosen Ilmu dan Teknologi Kebumian UNG)


Gorontalo adalah ruang, tempat hidup bagi sekitar 1,1 juta jiwa manusia. Ruang ini secara spasial memiliki luas 11.257,07 km2, secara geografis terhampar di antara  0° 19’ – 0° 57’ Lintang Utara dan 121° 23’ – 125° 14’ Bujur Timur (Permendagri 137, 2017). Seperti wilayah Nusantara lainnya, Gorontalo terbentuk unik dan memiliki sejarah sendiri yang tidak singkat dalam kurun waktu geologi. Sebagian Wilayah Gorontalo ada yang terbentuk di lingkungan laut, bahkan laut dalam, kemudian selama jutaan tahun mengalami berbagai bentuk proses geologi sehingga sekarang kita melihatnya sebagai daratan tempat kita masyarakat Gorontalo berbagi udara untuk tinggal dan hidup, saling berinteraksi satu sama lain beserta mahluk hidup lainnya.

Wilayah Gorontalo termasuk habitat fauna endemik kawasan wallacea, jenis fauna peralihan yang khas, berbeda dari ciri fauna Asia ataupun fauna Australia, yang sejarah kehidupannya tidak bisa lepas dari proses geologi yang membentuk wilayah ini. Jadi proses geologi yang terjadi ratusan, ribuan bahkan jutaan tahun tidak hanya berpengaruh terhadap lingkungan abiotik tapi juga sangat berpengaruh terhadap komponen biotik yakni semua makhluk hidup yang ada.

Berbicara dengan sudut pandang geologi, fisiografi wilayah Gorontalo bisa dikatakan unik, ruang hidup ini didominasi oleh perbukitan, pegunungan, jejeran punggungan bukit-gunung yang bentuk lahannya berlereng curam-terjal. Kira-kira 65% menurut perhitungan saya pribadi, luas wilayah ini termasuk fisiografi perbukitan-pegunungan dimana penggunaan lahannya termasuk kawasan hutan. Dengan demikian, praktis hanya sekitar 35% luas Wilayah Gorontalo yang masuk kedalam bentuk lahan datar-agak datar yang dapat dibangun dan dikembangkan untuk kebutuhan dan kepentingan hidup kita masyarakat Gorontalo. Itupun persentasenya akan jauh lebih kecil jika akan digunakan sebagai lahan terbangun dan pemukiman. Dan perlu diingat sebarannya tidak merata, karena itu tadi bentuk lahan datar-agak datar ini  banyak diinterupsi oleh bukit-bukit kecil yang menghiasan fisiografi Gorontalo menjadi bergelombang.

Sekilas membaca kondisi fisiografi tersebut, mudah untuk kita menebak fakta permasalahan apa yang sering dihadapi oleh sebagian masyarakat Gorontalo. Ya benar, tentu saja masalah banjir dan longsor. Itu sangat logis, dominasi bentuk lahan perbukitan dan pegunungan akan mengumpulkan air hujan dan mengalirkannya ke tempat yang rendah, ke dataran-dataran tempat lahan terbangun dan pemukiman terkonsentrasi. Kondisi tanah tebal hasil pelapukan batuan pada tinggian berlereng curam-terjal otomatis secara gravitasi akan meluncur ke bawah mengakibatkan apa yang kita sebut longsor. Sebenarnya ini hanyalah cara alam untuk mencari keseimbangan. Sebuah konsekuensi logis untuk daerah beriklim tropis. Kurang tepat jika kemudian ini disebut masalah klasik, ini alamiah, dan tentu harus kita hadapi sebagai warisan yang harus dikelola dengan baik, jangan dianggap sebagai kutukan. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah mampukah kita mengelolanya dengan baik?

Aspek geologi lain yang harus dibicarakan yaitu litologi atau batuan yang menyusun ruang wilayah Gorontalo. Busur magmatik dan vulkanik adalah lingkungan yang membentuk Gorontalo. Wilayah ini akan didominasi oleh batuan beku yang terbentuk langsung dari pembekuan magma dan juga batuan vulkanik atau rempah gunungapi. Meskipun proses vulkanisme ataupun magmatisme tidak dapat kita amati secara aktif sekarang namun salah satu bukti yang bisa didapatkan adalah adanya mata air yang membawa sisa panas dari proses-proses tersebut, contohnya di daerah Pentadio, di bagian timur laut danau Limboto sekarang. Hal ini termasuk kabar baik, karena dengan demikian potensi panas bumi yang ada kemungkinan dapat dikembangkan untuk pemenuhan sumber daya energi yang ramah lingkungan. Belum lagi material sedimen yang dihasilkan dari batuan beku dan rempah gunungapi terkenal sebagai tanah yang subur karena kaya akan mineral yang dibutuhkan oleh tumbuh-tumbuhan. Juga perlu diingat, adanya proses mineralisasi yang terjadi pada batuan penyusun wilayah ini, sudah terbukti membawa mineral-mineral yang ekonomis. Kesemuanya jika dibijaksanai dengan kebijakan yang baik seharusnya dapat membawa kesejahteraan untuk Gorontalo.

Tektonik dan kegempaan merupakan faktor yang tidak bisa lepas jika kita berbicara kondisi wilayah Gorontalo dari sudut pandang geologi. Peta rawan bencana yang dikeluarkan oleh pemerintah, berkelir merah untuk seluruh wilayah Gorontalo. Artinya apa? Artinya tidak ada satu tempat pun di Wilayah Gorontalo yang lepas dari bahaya gempa. Tunjaman lempeng laut Sulawesi di utara, di timur kita dihadapkan dengan tunjaman ganda lempeng benua mikro yang tenggelam di laut Maluku dan menunjam sepanjang busur Sangihe, serta desakan kepingan benua Australia yang terseret oleh sesar transpression mulai dari sesar Sorong sampai ke wilayah Banggai di selatan-tenggara Gorontalo adalah proses geologi penting yang sangat berpengaruh pada kejadian gempa di wilayah ini. Gempa tentu saja suatu kejadian yang ditakuti oleh manusia termasuk saya, yang sampai saat ini tidak bisa diprediksi kapan dan dimana kejadian tersebut akan terjadi.

Namun dari rekaman sejarah dan pengetahuan geologi kita dapat memberikan peringatan sehingga bisa selalu waspada akan kejadian gempa. Mempelajari cara menghadapi situasi gempa, terus-menerus mensosialisasikan ke masyarakat agar terbentuk masyarakat yang sadar akan ancaman bencana, melakukan penelitian dan mengembangkan teknologi tahan gempa, secara kontinyu menganggarkan dana untuk menghadapi peristiwa kebencanaan meskipun pada hakikatnya kita tetap tidak akan pernah benar-benar siap menghadapi bencana.

Itulah secuil dongeng tetang kondisi geologi wilayah Gorontalo. Kondisi yang tentunya jika direnungkan secara seksama adalah unsur penting dalam mengatur, menata dan menentukan strategi pemecahan masalah bencana atau pembangunan berwawasan kebencanaan. Walaupun kenyataannya, perihal geologi masih terus dianggap enteng dan rendah oleh sebagian masyarakat dan pengampu kebijakan. Namun tetap terangkai harapan, semoga kedepan geologi dapat berperan penting dan dijadikan dasar pembangunan tata ruang wilayah yang berkelanjutan demi kemaslahatan bersama. Salam Geologi!

Baca Juga

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Pasang Iklan Disini

OTHER STORIES

KOMENTAR TERBARU

error: Content is protected !!