Oleh : Nur Pratiwi Madi
Rekam Fakta, Opini – Salah satu bentuk refleksi pada hari kemerdekaan ini adalah dengan memahami makna dari merdeka yang sesungguhnya. Selain itu, merdeka bukanlah semena-mena atau bebas dalam berkuasa melainkan merdeka adalah bagaimana kita mampu membangun dan memajukan bangsa dengan semangat persatuan dan semangat ta’awun (gotong royong) sebagai modal untuk mengimplementasikan makna “merdeka” yang sebenarnya. Sekarang semangat bukan lagi merebut kemerdekaan dari kaum penjajah, melainkan harus mengisinya agar negara ini berkembang lebih maju. Itu harus dilakukan generasi muda,”
perjuangan Nahdlatul Ulama (NU) dalam mengawal kemerdekaan Indonesia ada salah satu tokoh yang menjadi pahlawan nasional yang disebut sebagai Rais Akbar Jammiyah NU yaitu Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’Ari sang pendiri NU. KH Hasyim Asy’ari sebagai sosok sentral perjuangan dalam meraih kemerdekaan.
Salah satu gerakannya adalah Resolusi Jihad NU pada oktober 1945. Dengan tegas beliau menyuarakan tentang perjuangan rakyat Indonesia dalam meraih dan mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hingga akhirnya muncul kaidah yang disuarakan dengan Hubbul Wathan Minal Iman (mencintai Tanah Air adalah bagian dari iman).
Usaha dalam mencapai kemerdekaan Indonesia tidak hanya diperjuangkan oleh para pahlawan yang berada di garda terdepan, tetapi diperjuangkan juga oleh orang-orang
di garda terbelakang.
Perempuan turut memiliki peranan penting dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Perjuangan para perempuan Indonesia untuk berjuang di ranah publik juga tak mudah. Dengan demikian, peran perempuan NU dalam kemerdekaan sangatlah luas dan beragam. Mereka tidak hanya menjadi pendukung perjuangan fisik, tetapi juga menjadi agen perubahan dalam bidang pendidikan, sosial, ekonomi, dan persatuan bangsa
Pada awal abad XX, masyarakat Indonesia masih di bawah tekanan para penjajah dalam segala bidang. Kondisi ini membuat perempuan sadar Beberapa perempuan seperti RA. Kartini, Dewi Sartika serta beberapa perempuan lain, melakukan gerakan untuk mengadakan sekolah-sekolah bagi kaum perempuan pribumi.
Gerakan tersebut dalam perkembangannya tidak hanya dilakukan oleh sebagaian individu, melainkan lebih terorganisasi. Seperti, berdirnya Poetri Mardika, Pawijatan Wanito, PIKAT, Purborini, Aisyiyah, Wanito Soesilo, Wanito Hadi, Poetri Boedi Sedjati dan yang lainnya.
Sementara itu, kesadaran berorganisasi di kalangan perempuan NU timbul sekitar awal tahun 1930-an. Kemudian pada saat Muktamar NU di Menes-Banten tahun 1938 atau 12 tahun pasca berdirinya organisasi NU, tampil Ny. Djuaesih dan Siti Sarah yang mewakili kaum perempuan di kalangan NU untuk mengungkapkan gagasannya akan pentingnya membentuk organisasi di kalangan perempuan NU. Akan tetapi hasil keputusan dalam muktamar di Menes ini, perempuan hanya diterima sebagai anggota saja.
Pasca muktamar tersebut, pembahasan untuk mendirikan sayap perempuan dalam tubuh NU semakin menghangat. Puncaknya ketika Muktamar NU di Surabaya tahun 1940, kaum perempuan mendesak untuk mengesahkan berdirinya organisasi perempuan di dalam tubuh NU.
Pada saat itu peserta muktamar masih berbeda pendapat, sehingga keputusan diserahkan kepada PB Syuriah. Akhirnya, pada tahun 1946 organisasi sayap perempuan NU berdiri dengan nama Nahdlatoel Oleama Muslimat (NOM), kemudian disusul Fatayat NU dan Ikatan pelajar Putri Nahdlatul ulama (IPPNU)
Organisasi perempuan adalah wadah yang luas untuk pergerakan perempuan-perempuan NU dalam perjuangannya. Menyampaikan pandangan, gagasan hingga merepresentasikan berbagai hal yang berkaitan dengan perjuangan bangsa Indonesia
Hingga saat ini Catatan sejarah lainnya yang menempatkan posisi perempuan NU (muslimat NU) yang ikut andil di garda depan Republik perannya dalam program deradikalisasi. Tahun 2011-2013 Muslimat NU bersama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyelenggarakan serangkaian kegiatan deradikalisasi. Muslimat NU mempelopori berdirinya Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) di 5 provinsi antara lain Riau, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Sumatera Utara.
Jika TNI memiliki tugas utama menegakkan kedaulatan negara dan mempertahankan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dari ancaman dan gangguan, maka tugas pokok Tentara NU adalah penyiapan generasi unggul. Tentara NU yang juga di isi oleh perempuan perempuan NU
Berbicara tentang perempuan NU selain muslimat NU, dalam Banom NU terdapat beberapa tingkatan kaderisasi perempuan yakni Fatayat NU hingga Ikatan pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU)
pelajar putri Nahdlatul Ulama juga berperan penting dalam mengisi kemerdekaan Indonesia khususnya sebagai wadah pendidikan, kaderisasi, dan pengembangan diri, pembentukan karakter, serta menjaga nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan yang berlandaskan Ahlussunnah wal jamaah.
Hubungan antara NU dan negara tidak bisa dipisahkan dan hubungan itu harus tetap ada dan dipertahankan sedangkan ikatan pelajar putri Nahdlatul ulama (IPPNU) itu merupakan salah satu generasi penerus NU yang jumlahnya sangat banyak tersebar di sekolah-sekolah NU maupun pesantren dan tidak hanya di anggotai oleh pelajar tapi juga di dominasi oleh mahasiswa di kepengurusan tingkat pusat, wilayah maupun cabang.
***















