Rekamfakta.com, Maluku – Kabupaten Maluku Tenggara, Proses penyaluran Bantuan Tunai dampak Virus Covid 19 tahap II (dua) yang di salurkan oleh Kantor Pos Kota Tual, dan kabupaten Maluku Tanggara mulai dirasakan oleh warga, nampak suasana tak nyaman hal ini dapat terlihat dari sikap yang di munculkan oleh oknum Petugas Kantor Pos yang menangani langsung penyaluran Bantuan tersebut Rabu (11/06).
Salah satu warga asal Desa Danar berinisial MR saat dipanggil namanya kedepan untuk menerima Bantuan berupa uang Tunai senilai Rp 600.000 dibuat tak bernapas, suasana ratusan orang yang berkumpul di lokasi sempat di buat tegang lantaran sikap dan pernyataan yang tak beretika dari oknum petugas kantor pos yang terus di lontarkan kepada ibu berinisial MR dengan pernyataan yang kurang sopan bahkan dirinya diancam “ibu hanya punya kartu keluarga KK kalau tidak ada KTP itu pelanggaran besok-besok saya tidak mau bayar lagi katanya” tegas sambil terus marah marah, merasa malu dengan kata-kata yang tak beretika itu sempat membuat MR asal Desa Danar itu pun menunduk wajah dan terdiam.
Saat di konfirmasi oleh Wartawan di lokasi Kantor Pos kata MR, dirinya merasa bingung dengan perlakuan oknum petugas yang satu ini, karena dalam surat undangan ini pada syarat 1 di katakan wajib membawa KTP atau KK.
“Padahal sewaktu saya mengurus dan menerima Bantuan tahap I bulan kemarin proses nya berjalan lancar tanpa ada komplein, saat pergantian petugas yang melayani di tahap II (dua) saat ini, malah saya di perlakukan dengan tidak sopan di depan banyak orang, dikatakan ini sebetulnya bukan soal Dana Tunai yang diterima walaupun ini merupakan hak kami sebagai warga, lebih kepada kepada harga diri sebagai seorang manusia untuk saling menghargai apa lagi oknum yang bersangkutan adalah seorang Pegawai Seharusnya lebih punya etika saat komunikasi” Tutur nya.
Sementara dari hasil pantauan Tim Rekam Fakta di lokasi sejumlah warga pun tak lolos dari pernyataan kasar sang oknum Petugas Kantor Pos tersebut, padahal oknum yang bersangkutan adalah seorang wanita yang melekat sifat keibuan, mestinya pekat dan memiliki etika yang lebih baik dalam Komunikasi kepada warga.
Anehnya lagi, saat menyikapi sejumlah warga yang belum sama sekali menerima Bantuan tahap I dan II kembali oknum ini berulah lagi, lewat sikap dan kata-kata kasar tanpa memberikan waktu kepada warga untuk menjelaskan alasan mengapa mereka belum menerima bantuan Tahap I dan II. Salah seorang warga yang meminta nama nya di sembunyikan merasa sangat tidak nyaman dengan oknum petugas yang satu ini tapi karena di sadari kami hanya masyarakat biasa jadi lebih baik berdiam diri saja walaupun di perlakukan tidak sopan. (Tim RF)













