Rekam Fakta, Bone Bolango – Tokoh penambang senior Bone Bolango yang juga Ketua Koperasi Tindaho, Haji Agustrisno Alaina, angkat bicara terkait polemik yang berkembang setelah pernyataan Usman Hulopi yang mengkritik aktivis Rahwandi Botutihe dalam isu pertambangan rakyat di Suwawa.
Menurut Agustrisno, perbedaan pandangan dalam melihat persoalan pertambangan adalah hal yang wajar. Namun ia mengingatkan agar kritik yang disampaikan oleh siapa pun tidak langsung dipandang negatif atau dianggap sebagai serangan terhadap masyarakat penambang.
“Semua kritikan dari siapa pun itu tujuannya baik. Jangan selalu dinilai negatif. Kadang-kadang orang yang mengkritik itu justru ingin kondisi penambang menjadi lebih baik, lebih aman, dan memiliki masa depan yang lebih jelas,” kata Agustrisno.
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul polemik yang muncul setelah Usman Hulopi menanggapi pernyataan Rahwandi Botutihe terkait berbagai persoalan di kawasan pertambangan rakyat Suwawa.
Sebagai penambang yang telah berkecimpung sejak tahun 1992, Agustrisno mengaku memahami betul dinamika yang dihadapi para penambang. Karena itu, ia menilai persoalan pertambangan tidak akan selesai jika hanya direspons dengan saling menyerang atau saling menyalahkan.
“Saya ini penambang sejak tahun 1992. Begitu saya datang ke Gorontalo, saya sudah menjadi penambang. Kalau ada masalah antara penambang dengan petugas atau pemerintah, saya selalu mencari solusi. Jangan petugas dijadikan musuh. Jangan pemerintah dijadikan musuh,” tegasnya.
Menurutnya, masyarakat penambang saat ini membutuhkan solusi nyata, bukan sekadar perdebatan yang tidak menghasilkan jalan keluar.
Ia mencontohkan langkah Koperasi Tindaho yang saat ini memilih menempuh jalur legal dan melengkapi seluruh persyaratan administrasi sebelum menjalankan aktivitas pertambangan secara penuh.
“Kami tidak berani bergerak sembarangan. Kami memilih taat aturan dan taat hukum. Masih ada beberapa hal yang harus kami urus, termasuk persoalan lokasi sesuai ketentuan pemerintah dan Kementerian Lingkungan Hidup. Kalau ada kekurangan, kami lengkapi dulu,” ujarnya.
Agustrisno menegaskan bahwa perjuangan yang sesungguhnya bagi penambang adalah menghadirkan sistem yang memberikan perlindungan dan kepastian bagi masyarakat.
“Yang harus kita cari itu bagaimana sistem yang menguntungkan penambang. Bagaimana penambang bisa bekerja dengan aman, punya kepastian, dan tidak selalu berhadapan dengan masalah yang sama,” katanya.
Dalam kesempatan itu, ia juga menyinggung fenomena pihak-pihak yang mengatasnamakan penambang dalam berbagai polemik yang berkembang di ruang publik.
Ia mengingatkan agar nama penambang tidak dijadikan alat untuk kepentingan tertentu yang tidak berkaitan langsung dengan kesejahteraan masyarakat tambang.
“Kalau kita mau membawa nama penambang, jangan tujuannya untuk kepentingan pribadi. Jangan hanya mengatasnamakan penambang, tetapi yang diperjuangkan bukan kepentingan penambang itu sendiri,” tegasnya.
Pernyataan tersebut dinilai sebagai sindiran terhadap pihak-pihak yang kerap mengklaim mewakili suara penambang namun lebih banyak membangun polemik dibanding menghadirkan solusi.
Agustrisno juga mengajak seluruh elemen, termasuk pemerintah, aparat penegak hukum, media, aktivis, maupun masyarakat penambang untuk duduk bersama mencari jalan keluar terbaik bagi masa depan pertambangan rakyat di Bone Bolango.
Menurutnya, kritik terhadap pertambangan tidak boleh selalu dianggap sebagai ancaman, tetapi harus dilihat sebagai bagian dari upaya perbaikan.
“Jangan selalu menganggap apa yang disampaikan pemerintah, petugas, wartawan, atau pihak yang peduli terhadap tambang sebagai sesuatu yang negatif. Ambil sisi positifnya. Cari solusinya. Kalau kita bersatu, saya yakin tambang Suwawa bisa lebih baik,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa pemerintah tidak memiliki niat untuk mematikan mata pencaharian masyarakat penambang.
“Pemerintah tidak mungkin mau membunuh rakyatnya sendiri. Yang perlu dilakukan adalah mencari solusi bersama. Kalau masyarakat mau mengurus izin, bantu mereka. Jangan dipersulit,” katanya.
Di akhir pernyataannya, Agustrisno kembali menyampaikan pesan yang cukup menohok kepada pihak-pihak yang mengatasnamakan perjuangan penambang.
“Kalau perjuangannya memang untuk rakyat, perjuangkan dengan tulus. Jangan tujuannya mencari keuntungan atau kepentingan pribadi,” ujarnya.
Bahkan dengan nada lugas, ia meminta agar generasi muda diberi ruang lebih besar dalam memperjuangkan masa depan pertambangan rakyat.
“Kalau sudah tua, kasih saja kesempatan kepada anak-anak ini untuk berjuang. Biar mereka mencari solusi dan masa depan yang lebih baik untuk pertambangan di Suwawa,” pungkasnya.





















