Faktur Kritik Keras Polisi Yang Jemput Petani Sawit Pake Mobil Perusahaan

IMG 20220905 134158
Foto Istimewa
banner 120x600

Rekamfakta.com,Kabupaten Boalemo -Terkait dugaan penjemputan paksa petani sawit oleh anggota polisi yang menggunakan mobil perusahaan, mendapat sorotan dari salah satu Anggota DPRD Boalemo Fatkurohman.

Fatkurohman menilai, Hal tersebut sangatlah tidak etis dimana integritas dan kewibawaan Polri dalam menjamin penegakan hukum yang berkeadilan di masyarakat.

“ Kenapa penjemputanya menggunakan mobil sawit, ini kan tidak bagus,” ucap Fatkurohman melalui via telepon seluler, Sabtu( 3/09).

Menurut Fatkur, pihak kepolisian mempunyai dana operasional tersendiri.

“ Mereka ini kan punya dana operasional, punya mobil yang bisa untuk melancarkan kinerja, kan semua mobil banyak di polres, ini keliru saya bilang, saya juga naik ‘darah’ saat polisi menjemput pakai mobil perusahaan, saya membaca berita itu begitu,” lanjutnya.

Tak sampai disitu, Fatkur juga menegaskan, bahwa dirinya akan mengambil sikap tentang penjemputan yang menggunakan mobil perusahaan.

“ Seandainya benar adanya yang terlapor ini dijemput oleh polisi atas nama lembaga kemudian pakenya mobilnya perusahaan itu, sangat saya kecam saya tidak suka itu,” tegasnya.

Selain itu, Fatkur dari Partai PPP ini mengaku, sangat menyangkan dengan kejadian dugaan penjemputan secara paksa oleh polisi kepada petani sawit.

“ Saya tidak suka dengan kejadian itu. Walaupun saya tidak begitu banyak memiliki pemahaman, tetapi standar operasional penjemputan orang yang terlapor itu kan ini kesannya dipaksa atau tidak kita belum tau cuma publik menyikapi begitu,” ujarnya.

Faktur dari Partai PPP ini mengaku, sangat menyangkan dengan dugaan penjemputan paksa oleh oknum polisi kepada petani sawit.

Faktur mempetanyakan, apakah sudah dilakukan panggilan pertama, kedua, dan ketiga, Sebab Menurut faktur, ketika baru panggilan tahap pertama itu belum bisa di lakukan penjemputan.

“ Dugaan Jemputan paksa itu saya belum tau, kan kalau panggilan tahap pertama baru dijemput paksa kan tidak ada itu, kan itu biasanya ada ke dua ketiga di panggil baru ada penjemputan paksa kan begitu,” tandasnya.

Terpisah,Hijra Itetu selaku juru bicara petani sawit mengatakan, bahwa surat pemanggilan bagi petani sawit itu baru surat pemanggilan pertama.

“ Pemanggilan ini pagi, dan mobil perusahaan ini datang ke rumahnya mas endang kemudian mereka (polisi) turun mungkin memberikan surat pemberitahuan dimulainya penyidikan (SPDP). Setahu saya itu baru surat pemanggilan pertama,” kata Hijrah saat di wawancarai lewat telpon seluler, Minggu(04/09).

Tak hanya itu Hijrah juga meminta penyidik agar bisa membicarakan hal itu dengan penasehatnya.

” Saya telpon pak Jufri sebagai penasehat kami juga, pak Jufri minta bicara dengan penyidik itu yang menjemput, tapi dianya (penyidik) berkata “saya ini malas untuk bicara dengan siapapun” Setelah itu saya balik badan tetap saya tahan petani ini karena mereka sebagai tanggung jawab saya dong, karena tidak ada pendampingan dari siapapun kasihan mereka orang awam,” kata Hijrah

Bahkan dirinya sempat menyampaikan kepada pihak penyidik, bahwa pihaknya memiliki pengacara.

” Seharusnya kalau dia memang seorang polisi yang koperatif bicara. Seorang polisi kan pengayom masyarakat seorang penyidik ini kan seharusnya mereka ini transparan dengan masyarakat ini kan tidak ada transparansi dengan masyarakat, nah yang biking kecewanya saya lagi kenapa naik mobilnya perusahaan disitu saya nilai pemaksaan itu, dari pihak penyidik tidak mau bicara dengan saya tidak mau menjelaskan”, Jelas Hijrah

Diakhir kata Hijrah, bahwa integritas dan kewibawaan Polri harus dijaga, sehingga publik tidak melahirkan pertanyaan penegakan Hukum yang berkeadilan di Bumi Boalemo Damai Bertasbih.

” Ini yang saya pertanyakan, Ada apa kepolisian dengan perusahaan, apalagi ada keterangannya si pihak penyidik itu yang katanya Mereka minta difasilitasi oleh pihak perusahaan.karena mobil mereka kecil maka mereka minta difasilitasi oleh perusahaan dan itu ada rekamannya lewat via telefon. Tutup Jubir Petani Sawit Hijra Eletu

Diketahui,pasca hebohnya pemberitaan tersebut, Kasat Reskrim Polres Boalemo Saiful Kamal mengklarifikasi dugaan penjemputan paksa empat orang petani itu.

Saiful mengaku, bahwa penjemputan paksa bagi 4 petani tersebut tidak benar, hanya saja petani sendiri kooperatif saat di ajak.

“Jadi tidak ada penjemputan paksa. Mereka pun datang karena mau diajak. Dan kami menyesuaikan prosedur saja,” tambahnya.

Terinformasi Kasat Reskrim Saiful Kamal, juga menjelaskan bahwa saat ini pihaknya lagi menangani persoalan pengrusakan sawit di Kecamatan Wonosari.

“Jadi kami ini lagi menangani kasus pengrusakan sawit antara petani dan perusahaan sawit,” ungkapnya.

Kasus ini kata Saiful, sudah masuk pada tahap penyidikan. Dan pihaknya telah melakukan panggilan terhadap petani sawit, namun petani yang dipanggil tidak menghadiri panggilan tersebut.

“ Kemarin kita sudah panggil dia (petani) itu. Panggilan ke Polres. Karena kita pikir panggilan ini jauh, makanya kita inisiatif untuk ke Polsek saja. Maka kita menunggu di Polsek, tidak hadir sampai sore.

Merasa undangan tidak diindahkan lanjut Saiful, pihak penyidik mendatangi langsung rumah petani. Sesampai di rumah, penyidik menanyakan kepada yang bersangkutan untuk pemeriksaan dilakukan di Polsek Wonosari.

“Karena kebetulan ada surat lain yang perlu kita antar ke para petani, sehingga penyidik merasa perlu untuk mendatangi rumah petani. Kita tanya kenapa tidak hadir panggilan, ada yang menghalang-halangi katanya. Terus ditanya, mau datang ke Polsek untuk dilakukan pemeriksaan, dan meraka mau, karena mereka mau, ya diajak ke Polsek,” jelasnya.

Dugaan tudingan difasilitasi oleh itu Perusahaan Saiful Kamal menyampaikan, terkait mobil perusahaan yang digunakan oleh pihaknya dalam melakukan penjemputan, Saiful mengungkapkan bahwa karena perusahaan yang melaporkan, makanya dibantu biar proses penanganan lancar.

“ Terkait dengan kendaraan perusahaan. Tujuan dari perusahaan agar proses ini bisa selesai dengan masyarakat. Olehnya perusahaan memberikan bantuan kendaraan untuk menuju lokasi yang medannya agak sulit ditempuh,” tandasnya.

Arlan/RF