Rekam Fakta, Gorontalo — Kepala Puskesmas Sipatana, Rita Bambang, menegaskan sikapnya di tengah sorotan publik atas polemik layanan ambulans. Ia menyampaikan bahwa dirinya siap menerima segala bentuk sanksi atau evaluasi, dan menegaskan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab sebagai pelayan masyarakat.
Sejak awal, Rita memiliki niat kuat untuk mendatangi keluarga duka, menyampaikan belasungkawa, dan meluruskan kesalahpahaman. Namun beberapa kali niat tersebut tertahan karena adanya pihak tertentu yang meminta penundaan, dengan alasan yang sulit dipahami.
Meski begitu, pada Kamis, 20 November, Rita akhirnya datang ke rumah duka pada pagi hari. Ia datang bukan sebagai pejabat, melainkan sebagai sesama manusia yang ingin menunjukkan empati dan menghormati kehilangan keluarga. Saat tiba, rumah duka tampak sepi. Tidak seorang pun keluarga hadir.
“Hati saya berat karena ingin hadir dan menyampaikan permohonan maaf serta belasungkawa secara langsung. Tapi yang terpenting bagi saya adalah niat ini. Saya ingin memastikan tidak ada jarak antara saya sebagai pelayan masyarakat dan keluarga yang berduka,” ujar Rita.
Ia menegaskan bahwa kedatangannya bukan untuk membela diri, tetapi untuk menjaga hubungan antarmanusia.
“Saya sudah ikhlas dengan segala tuntutan publik dan konsekuensi jabatan saya. Yang saya ingin jaga hanyalah komunikasi yang baik, hubungan yang hangat, dan memastikan bahwa kegaduhan ini tidak menimbulkan luka lebih dalam,” tambahnya.
Rita juga menekankan bahwa polemik ini menjadi pelajaran berharga bagi seluruh tenaga kesehatan di Puskesmas Sipatana. Koordinasi, komunikasi, dan pelayanan akan terus dievaluasi agar kesalahpahaman serupa tidak terulang di masa depan.
“Saat ini saya fokus untuk membenahi sistem layanan dan meningkatkan SDM ASN dan PPPK”, terangnya.
“Saya berharap masyarakat dapat memahami niat saya. Saya datang bukan untuk mencari pembenaran, tapi untuk merangkul dan memperbaiki keadaan. Semoga semua pihak bisa kembali tenang dan damai,” tutupnya.
***















