Rekamfakta.com, Kota Gorontalo – Dendam kesumat masih terlintas dari raut wajah Hais Nusi yang dikenal banyak orang sebagai Sang Politisi Garang bagaikan Seekor Singa lapar ketika duduk di Gedung Parlemen demi membela hak-hak rakyat kecil dan miskin yang tertindas.
Hal ini terlihat pada sesi istirahat di sela-sela Rakorwil Partai NasDem kemarin di Hotel Maqna pada Rabu kemarin, (31/03/2021) saat Hais Nusi “dikepung” oleh sejumlah Wartawan untuk mengorek unek-unek yang selama ini terpendam.
Dengan suara meledak-ledak, Hais Nusi mulai menceritakan nasibnya yang termasuk jadi korban kongkalingkong Rusli Habibie pada Pilwako Tahun 2018.
“Saya diundang ke Rumah Dinas Gubernur sebagai Ketua Fraksi Golkar di DPRD kota, di sana sudah ada Tony Junus dari PDIP, ada Ishak Liputo, ada Rusli Habibie dan ada Yanto Koniyo, saya diminta untuk mensosialisasikan Yanto Koniyo untuk menjadi Walikota, dan itu saya kerjakan. Karena waktu itu Rusli Habibie tidak sreg lagi dengan Marten Taha, karena Marten Taha tidak mendukung Full Rusli Habibie waktu Pilgub periode ke-2,” tegas Hais.

“Saya mainkan ini barang, saya sosialisasikan ini yang namanya Yanto Koniyo yang direncanakan akan berpasangan pada waktu itu dengan Lola Junus, Makanya Tony Junus diundang. Karena saya setuju, maka saya jalankan ini perintah, dan yang memerintah ini ketua DPD 1, dan ini kalau di ingkari oleh Rusli Habibie, maka saya akan ajak sumpah pocong di mesjid besar,” sambungnya lagi.
Lebih lanjut Hais Nusi menceritakan kronologinya, ketika DPP Golkar tetap memutuskan Marten Taha yang jadi Calon Walikota, disitulah Marten Taha melampiaskan dendamnya dengan tidak mencalonkan lagi Hais Nusi sebagai caleg Golkar, karena Hais tidak mendukung Marten waktu pencalonan, Hais dianggap sebagai motor Fraksi Golkar yang ada 4 orang untuk mendukung calon tunggal, mekanismenya pencalonan itu ada aspirasi dari tiap PK dan ada aspirasi dari Fraksi Golkar, Fraksi Golkar itu hanya mencalonkan Yanto Koniyo dan tidak mencalonkan Marten Taha.
Disinilah kader-kader Golkar yang di tingkat bawah, ada yang merasa tidak senang dan menyampaikan ke Marten Taha, agar supaya Hais Nusi itu tidak dimasukkan dalam Caleg DPRD Kota Gorontalo.
“Ketika Marten Taha sudah dapat rekom dari DPP, Rusli Habibie mengalah, dia minta saya untuk bersama Marten Taha untuk Kampanye, tapi saya tidak mau, karena saya sudah terlanjur mensosialisasikan ke masyarakat bahwa yang cocok jadi Walikota itu adalah Yanto Koniyo, sehingga saya tidak mau menarik saya punya kata-kata, makanya oleh Marten Taha, saya tidak di calonkan lagi, tapi saya sampaikan ke Rusli Habibie kalau saya tidak di usung dari Partai Golkar, saya ikhlas, tapi saya punya anak, saya calonkan dari PDI-P dan Alhamdulillah anak saya terpilih, kalau misalnya mereka masih mencalonkan saya, berarti ketambahan 2 kursi di Golkar,” ungkap Hais Nusi.
“Boleh dibilang saya di jebak disini dan aktornya adalah Rusli Habibie, karena kalau Rusli tidak minta saya untuk sosialisasikan Yanto Koniyo, palingan sampai sekarang saya masih dengan Marten Taha, dan harus saya dengar Rusli Habibie karena dia Ketua DPD 1,” katanya lagi.
“In Shaa Allah kalau NasDem mencalonkan saya, maka saya akan berjuang membawa kursi, itu tekad saya, dan Harapan saya untuk Golkar, semoga Partai Golkar akan tenggelam di Tahun 2024,” pungkas Hais Nusi. (0N4L/RF)




























