Penulis : Zakaria, Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Gorontalo
Rekam Fakta, Opini – Dalam setiap perayaan Idul Fitri, takbir keliling bukan sekadar tradisi. Ia adalah ekspresi keagungan, kebahagiaan, dan rasa syukur umat Muslim terhadap kemenangan yang telah diraih setelah sebulan penuh berpuasa.
Sayangnya, sejumlah bupati di Gorontalo baru-baru ini mengeluarkan imbauan yang sangat membingungkan: agar masyarakat tidak melaksanakan pawai takbir keliling.
Alasan yang disampaikan adalah bahwa kegiatan tersebut dinilai tidak relevan dengan semangat memeriahkan Idul Fitri, yang lebih baik diisi dengan kegiatan yang lebih positif dan terkendali.
Dibalik imbauan ini, tersirat sebuah ketidaksesuaian antara kebijakan pemerintah dengan makna sejati perayaan Idul Fitri itu sendiri.
Namun, sebelum kita membahas lebih lanjut tentang imbauan ini, mari kita tarik sebuah paralel yang menarik, mungkin sebuah perbandingan sederhana, namun sangat relevan.
Kampanye politik atau perayaan tertentu yang melibatkan pawai keliling tidak jarang diselenggarakan dengan meriah, dengan melibatkan banyak orang.
Masyarakat diperbolehkan berjalan beramai-ramai di jalanan, berbaris dengan semangat yang tinggi, bahkan kadang disertai dengan orasi-orasi dan selebrasi besar. Mengapa, dalam hal itu, tak ada kritik atau pembatasan yang berarti?
Kenapa, dalam kontek kampanye yang sering kali bersifat politis, pawai keliling bisa dianggap sah dan menggembirakan? Lantas, mengapa ketika datang kepada takbir keliling yang bertujuan untuk memuliakan Allah, ini justru dianggap sebagai sesuatu yang perlu dibatasi?
Mengambil perspektif antropologi Gorontalo, kita dapat melihat bahwa takbir keliling adalah bentuk ritual sosial yang mengikat umat dalam satu kesatuan emosi kolektif. Didalamnya terdapat rasa kebersamaan, rasa syukur yang mendalam, serta ekspresi eksternal dari keyakinan spiritual.
Masyarakat yang berpartisipasi dalam takbir keliling bukan hanya merayakan Idul Fitri secara individu, tetapi juga secara sosial. Takbir, dalam konteks ini, adalah bentuk komunikasi sosial yang menghubungkan setiap elemen masyarakat dengan semangat kebersamaan yang dibangun atas dasar nilai agama.
Selain itu, juga merepakan budaya yang diwariskan turun temurun. Jika kampanye yang didorong oleh kepentingan politik bisa berjalan dengan semangat meriah, mengapa takbir yang bertujuan untuk memuliakan Allah harus dipandang dengan kecurigaan atau bahkan pembatasan?
Kita harus ingat, bahwa dalam setiap tradisi, apalagi tradisi keagamaan, terdapat makna mendalam yang tak bisa hanya dipandang dengan hitam putih. Takbir adalah simbol kemenangan, simbol kesatuan umat Islam di seluruh dunia.
Melarang atau membatasi takbir keliling tanpa alasan yang jelas adalah bentuk ketidakpahaman terhadap esensi dari perayaan itu sendiri. Bupati yang beranggapan bahwa takbir keliling adalah kegiatan yang tidak relevan, tentu perlu dipertanyakan kembali pemahamannya.
Dalam perspektif keagamaan, makna sejati Idul Fitri justru sangat erat kaitannya dengan kebahagiaan dan rasa syukur yang harus diekspresikan secara terbuka dan penuh kebersamaan.
Namun, lebih dari itu, kebijakan semacam ini juga menunjukkan kesenjangan antara kebijakan publik dengan nilai-nilai budaya lokal. Perayaan takbir keliling adalah bagian dari jati diri umat Islam di Gorontalo yang telah berlangsung lama, bahkan menjadi simbol kearifan lokal yang mendalam.
Melarangnya sama saja dengan menghapuskan jejak budaya yang menjadi bagian integral dari sejarah masyarakat. Bukankah kita sudah sering mendengar ungkapan bahwa identitas suatu bangsa atau daerah justru terletak pada kebudayaannya yang khas?
Dari sudut pandang kritis, imbauan tersebut juga mengindikasikan sebuah ironi besar. Di satu sisi, negara atau pemerintah sering kali berusaha untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam berbagai kegiatan sosial, sementara di sisi lain, justru melakukan pembatasan terhadap ekspresi agama yang dilakukan masyarakat secara sukarela.
Kita tidak bisa membiarkan kebijakan yang terkesan otoriter ini mereduksi semangat umat dalam merayakan hari kemenangan.
Jika kita berbicara tentang relevansi, bukankah relevansi itu bersifat kontekstual? Relevansi sebuah tradisi terletak pada seberapa jauh nilai dan maknanya bisa diaplikasikan dalam konteks sosial dan budaya masyarakatnya.
Takbir keliling tidak hanya relevan dengan semangat Idul Fitri, tetapi juga relevan dengan semangat kebersamaan dan ekspresi religiusitas yang mendalam.
Jadi, jika kampanye politik yang sering kali mengandung banyak kepentingan bisa menggelar pawai keliling, mengapa takbir keliling, yang jelas-jelas bertujuan untuk kebaikan spiritual, harus dianggap tidak relevan?
Sebagai ketua organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), saya merasa ini adalah saat yang tepat untuk mengingatkan para pemangku kebijakan di Gorontalo, bahwa kebijakan yang diambil harus mengedepankan prinsip kebebasan beragama dan penghargaan terhadap tradisi.
Jangan sampai kita terjebak dalam kebijakan yang tidak hanya membatasi ruang ekspresi masyarakat, tetapi juga merusak fondasi-fondasi kultural yang telah dibangun selama berabad-abad.
Dalam masyarakat yang majemuk ini, kebijakan publik seharusnya tidak menghalangi kebahagiaan dan rasa syukur umat dalam merayakan hari kemenangan. Karena, pada akhirnya, takbir keliling adalah milik kita bersama, milik setiap orang yang ingin merayakan kemenangan dengan cara yang sah dan penuh makna.
Selamat merayakan Idul Fitri 1446 Hijriah, dengan segala kegembiraan, kebersamaan, dan semangat takbir yang tak akan pernah pudar.
***




























