โ€Ž
Opini  

Rachmat Gobel Tak Sedang Dibicarakan, Ia Sedang Didoakan oleh Warganya

banner 120x600

Oleh: Rachmad Askhar Sani

Rekam Fakta, Opini – Di media sosial, tidak semua apresiasi disampaikan melalui pujian panjang. Terkadang, rasa hormat dan terima kasih hadir dalam bentuk yang paling sederhana, sebuah doa.

Hal itulah yang terlihat di kolom komentar unggahan mengenai tiga destinasi wisata andalan Gorontalo, yakni Menara Pakaya, Danau Perintis, dan Pentadio Resort. Di tengah ribuan tayangan dan interaksi yang terus bertambah, netizen justru lebih banyak membicarakan sosok di balik lahirnya destinasi-destinasi tersebut, Anggota DPR RI Dapil Gorontalo, Rachmat Gobel.

Namun yang menarik, masyarakat tidak sedang berdebat, tidak pula sibuk melontarkan pujian berlebihan. Mereka justru menuliskan doa-doa tulus yang lahir dari hati.

“Masya Allah sehat selalu bapak dan keluarga, selalu dalam penjagaan dan perlindungan Allah SWT,” tulis seorang netizen.

Komentar serupa terus bermunculan.

“Masya Allah sehat selalu Pa RG.”

“Sehat ya Bapak RG.”

Bagi sebagian orang, kalimat-kalimat itu mungkin terlihat sederhana. Namun di baliknya tersimpan penghargaan yang besar dari masyarakat kepada seseorang yang mereka nilai telah memberikan kontribusi nyata bagi daerah.

Tidak sedikit pula yang secara terbuka mengungkapkan kekaguman mereka terhadap sosok Rachmat Gobel.

“Alhamdulillah, inilah figur pemimpin bangsa yang sosial dan merakyat. Insya Allah sehat dan sukses selalu. Aamiin,” tulis seorang netizen dalam komentar yang mendapat banyak dukungan dari pengguna lainnya.

Komentar tersebut menggambarkan bagaimana sebagian masyarakat memandang pembangunan yang dilakukan tidak sekadar menghadirkan bangunan atau fasilitas wisata, tetapi juga menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Di sisi lain, kehadiran Menara Pakaya, Danau Perintis, dan Pentadio Resort ternyata berhasil menarik perhatian masyarakat di luar Gorontalo. Salah satu komentar yang mencuri perhatian datang dari seorang netizen yang menulis:

“Manado kapan ya seindah itu.”

Komentar tersebut kemudian dibalas dengan nada persaudaraan.

“Kak banyak bersyukur yuk, Manado gak kalah indah sama Gorontalo.”

Percakapan sederhana itu menunjukkan satu hal: ketika sebuah daerah berkembang, yang tumbuh bukan hanya destinasi wisata baru, tetapi juga rasa bangga terhadap tanah kelahiran.

Bahkan ada komentar yang secara lugas menggambarkan perasaan sebagian masyarakat.

“Cuman Pak Rachmat Gobel yang bisa kase jadi Gorontalo lebih hidup dan indah.”

Kalimat itu mungkin tidak lahir dari sebuah survei atau kajian akademik. Ia lahir dari pengalaman dan kesan yang dirasakan langsung oleh masyarakat saat melihat perubahan yang terjadi di daerah mereka.

Ada pula komentar yang mengajak kerabatnya untuk kembali berkunjung ke Gorontalo setelah melihat berbagai destinasi wisata yang ditampilkan.

“Mu bale ulang juga ka Gorontalo.”

Bagi Gorontalo, komentar itu lebih dari sekadar ajakan pulang kampung. Itu adalah tanda bahwa daerah ini mulai memiliki daya tarik yang membuat orang ingin datang kembali, menikmati suasana, dan merasakan pengalaman yang berbeda.

Di tengah derasnya arus informasi dan berbagai perdebatan yang sering memenuhi media sosial, kolom komentar unggahan tersebut justru menghadirkan sesuatu yang jarang ditemukan: doa, rasa syukur, dan kebanggaan.

Masyarakat mungkin datang untuk melihat foto-foto destinasi wisata. Namun yang mereka tinggalkan adalah ungkapan hati.

Karena pada akhirnya, keberhasilan sebuah karya tidak hanya diukur dari seberapa banyak orang membicarakannya, melainkan dari seberapa tulus masyarakat mendoakan orang yang menghadirkannya.

Dan dari kolom komentar itu, satu hal tampak jelas:

Rachmat Gobel tak sedang dibicarakan. Ia sedang didoakan oleh warganya.


โ€Ž